PADANG -- Semangat perjuangan dan pemikiran besar tokoh emansipasi perempuan asal Sumatra Barat, Rahmah El Yunusiyyah, kembali dibahas dalam sebuah seminar nasional yang berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Senin (4/5).
Seminar bertajuk "Kiprah Rahmah El Yunusiyyah Sebagai Pahlawan Nasional" ini menjadi momentum penting untuk menggali lebih dalam warisan intelektual dan pola pendidikan yang dicetuskannya agar tetap relevan di era modern.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, yang secara resmi membuka kegiatan itu, menegaskan bahwa seminar dimaksud bertujuan menginspirasi perempuan masa kini untuk meneladani kegigihan Rahmah. Nilai-nilai yang diletakkan oleh pendiri Diniyyah Puteri tersebut dinilai sangat realistis bagi dunia pendidikan saat ini, terutama dalam memposisikan perempuan sebagai pendidik utama di rumah tangga.
"Pendidikan perempuan adalah kunci menghasilkan generasi penerus yang berkualitas. Melalui pola pendidikan yang dicetuskan Rahmah, kita berharap konsep tersebut menjadi acuan utama dalam sistem pendidikan masa kini," ujar Mahyeldi.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Kebudayaan yang diwakili oleh Feri Arlius Dt. Sipado (Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan), menyatakan bahwa keberadaan Diniyyah Puteri masih sangat relevan. Pemerintah berharap gagasan Rahmah tentang pendidikan perempuan terus dikembangkan dan diterapkan secara luas.
Mantan Ketua Dewan Negara Malaysia, Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, hadir sebagai keynote speaker. Dalam pemaparannya, Rais Yatim menempatkan posisi Rahmah El Yunusiyyah sejajar dengan tokoh-tokoh besar dunia.
Menurutnya, sosok Rahmah adalah perpaduan sempurna antara Kearifan adat Minangkabau, Kecakapan pendidikan kesehatan dan ilmu agama, Semangat juang membela hak pendidikan perempuan.
"Antara Rahmah dengan kita jangan ada ruang kosong, harus ada penerus. Rahmah sudah pergi, tinggal tugas kita sekarang memegang teraju. Populerkan sekolah ini sebagai tangible asset of Minangkabau," tegas Rais Yatim.
Secara khusus, Rais Yatim juga mengajak agar Diniyyah Puteri dihadirkan di perantauan Malaysia, khususnya di Negeri Sembilan. Ia mengenang dua tokoh perempuan hebat Malaysia, Tan Sri Aisyah Gani dan Syamsiah Pakiah, yang merupakan lulusan institusi yang didirikan Rahmah tersebut.
Seminar ini juga menghadirkan panelis ahli untuk mengupas tuntas sosok Rahmah dari berbagai sudut pandang, yaitu Prof. Dr. Fasli Jalal (akademisi) dengan topik bahasan jejak langkah Rahmah El Yunusiyyah dari perspektif bidang pendidikan. Narasumber kedua Khairul Jasmi (wartawan senior) yang mengangkat topik kiprah Rahmah El Yunusiyyah dalam mempersiapkan muslimah Minangkabau.
Kedua narasumber sepakat bahwa visi Rahmah bukan sekadar mendirikan sekolah, melainkan membangun karakter muslimah yang tangguh, berwawasan luas, namun tetap berpijak pada akar budaya dan agama yang kuat.
Melalui seminar ini, diharapkan pemikiran Rahmah El Yunusiyyah tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi menjadi napas baru bagi kemajuan pendidikan perempuan di Indonesia dan dunia internasional. (dkm)