Begitu driver taksi online bicara ketika saya baru saja duduk di jok mobilnya, Minggu (6/9).
"Informasinya begitu. Tapi saya harus ke bandara, karena sampai sekarang tidak ada pemberitahuan dari maskapai. Daripada tertinggal pesawat, biarlah ke bandara juga," balas saya sambil terus mencari-cari informasi di media online.
Mobil terus membelah Kota Jakarta. Dari kawasan Blok M, mobil mengarah ke Senayan, terus ke Jalan Sudirman dan entah jalan apa lagi, lalu masuk tol. Di tol-lah ke namanya tentu kecepatan mobil melebihi kecepatan dalam kota. Tidak sampai satu jam, Velos terbaru itu sampai di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Di layar monitor terlihat nyata semua penerbangan dibatalkan. Tapi tidak terlihat pesawat tujuan Padang. Ada harapan, maka saya menuju konter pelaporan. Di tempat ini, begitu banyak orang. Ada yang ngobrol. Ada yang duduk, berdiri dan ada pula yang mondar mandir sambil mendorong troli.
"Maaf Pak, penerbangan ditunda sementara," ujar petugas.
"Sampai jam berapa?" Tanya saya.
"Untuk hari ini. Bapak bisa reschedule atau refund," balas petugas loket.
Mendengar jawaban demikian, hati ini mulai gelisah. Teringat belum Salat Zuhur, maka saya naik ke lantai 2 mencari musala sekaligus melihat kenyataan di lantai 2 yang biasanya sebagai ruang tunggu keberangkatan.
Eskalator sepi, tak ada orang. Saya pun terus naik mencari musala. Ops. Gedung sebesar itu tak ada orang, tak ada hiruk pikuk. Sepi bagaikan di rimba raya. Hanya terdengar pengumuman petugas agar tidak meninggalkan barang bawaan.
"Kepada pengunjung Bandara Soekarno-Hatta agar tidak meninggalkan barang bawaannya " demikian kira-kira bunyi suara tersebut.
Baru kali ini saya menemukan Bandara terbesar di Indonesia itu yang benar-benar lengang di area masuk ruang tunggu. Barangkali di lantai 2 itu tak lebih dari 10 orang yang bertemu.
Inilah dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak di kawasan Selat Sunda, masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Abu yang ditimbulkan letusan gunung tersebut merambah hingga Jakarta, dan mengganggu operasional pesawat.
Selesai Salat Zuhur yang dijamak Asar, saya memutuskan untuk reschedule atau penjadwalan kembali penerbangan. Semoga abu anak Krakatau cepat berlalu.
Akhirnya saya keluar dari bandara. Di luar tak banyak lagi kendaraan di lapangan parkir. Juga tak banyak lagi orang yang hilir mudik pada selasarnya. Sepi! (Sawir Pribadi)