Faktual dan Berintegritas

Ilustrasi Metro TV

SEORANG anak kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang sehari-hari tinggal bersama neneknya mengakhiri hidup dengan hal yang tidak lazim. Umurnya baru 10 tahun, lalu meninggalkan pesan 'pedih' untuk ibunya.

Peristiwa bocah bunuh diri dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyentakkan publik. Media sosial dipenuhi oleh peristiwa tersebut. Beragam komentar tak bisa dibendung. 

Anak sekecil itu melakukan tindakan di luar nalar, hanya karena kemiskinan. Info yang beredar penyebabnya lantaran ia minta buku tulis dan pulpen sebagai kebutuhan dasar pelajar kelas IV SD. Permintaan itu sepertinya belum bisa dipenuhi sang nenek yang memang hidup dalam keprihatinan.

Dikutip dari beberapa sumber, sejak usia 1 tahun 7 bulan, bocah tersebut hidup terpisah dari ibunya. Ia tinggal bersama sang nenek di sebuah gubuk kecil yang tidak layak huni. Sedangkan ibunya tinggal bersama saudara sang bocah yang lain. Hal itu lantaran kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. 

Peristiwa dari Timur nan memiriskan ini hanyalah salah satu dampak kemiskinan. Ia bagaikan alaram yang berdering di pagi buta. Menandakan kemiskinan masih subur di negeri ini.

Banyak peristiwa lain yang terjadi,  penyebabnya ketidakberpunyaan. Sebutlah kasus kriminal seperti pengutilan di swalayan,  minimarket, toko dan lain sebagainya. Sering itu terjadi karena pelaku punya bayi yang harus mengkonsumsi susu, namun tidak punya uang untuk membeli. Atau ada pula yang mencongkel kotak infak di masjid lantaran anaknya butuh makan, sementara pekerjaan tidak ada. Sudah bolong sendal hilir mudik mencari pekerjaan, namun tak dapat jua. Di sanalah terjadi 'perperangan' antara realita dan jiwa. Akhirnya realita mengalahkan jiwa, maka terjadilah tindakan yang tidak benar tersebut.

Apa yang terjadi di Timur tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah bahwa kemiskinan itu ada. Kemiskinan itu membuat orang lupa akan hukum, lupa akan tatanan, lupa akan aturan dan segala macamnya. 

Sementara di lain pihak, pemerintah dengan gagah mengatakan punya program makanan bergizi gratis (MBG). Semua anak sekolah dapat jatah, termasuk anak-anak orang kaya tentunya. Di sudut-sudut sana, di antara sekolah dan rumah-rumah mewah, ada yang menjerit tak punya energi. Lalu, kenapa tidak disambangi?

Rasanya masih banyak yang lebih vital selain MBG. Menelusuri ekonomi masyarakat juga penting, apalagi para lanjut usia. Selain makan, mereka juga butuh tempat tinggal layak, sandang, kesehatan dan lain sebagainya. 

Kita tentu tidak ingin kasus seperti di Ngada, NTT tersebut terjadi di daerah lain. Upaya preventif dan langkah ke depan dari pemerintah yang pro rakyat sangat kita nantikan. Lebih dari itu, para wakil rakyat jangan hanya duduk enak di kursi empuk setelah dipilih rakyat. Bekerjalah untuk rakyat, jangan untuk penguasa. Semoga kejadian ini menyadarkan kita semua. Semoga! (Sawir Pribadi)
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top