PADANG -- Universitas Andalas (Unand) mewisuda 1.389 lulusan dalam prosesi wisuda ke-III tahun ini. Dalam pidatonya, Rektor Unand, Efa Yonnedi membahas soal AI dan isu global.
"Beberapa waktu lalu, saya mengikuti
forum Google Leaders Series di
Singapura. Satu hari penuh, berkumpul
pemimpin universitas se-Asia Pasifik. Topiknya satu, kecerdasan artifisial,
atau AI," kata rektor dalam pidatonya, Minggu (12/7) di auditorium kampus tersebut.
Efa mengatakan, dari hasil pertemuan itu banyak hal yang dia pelajari dan prinsip baru yang muncul.
"Ada satu prinsip yang saya bawa pulang. Namanya Human-in-the-Loop. Artinya begini, AI boleh membantu. AI boleh menjadi co-pilot. Tapi kendali tetap di tangan manusia," katanya.
Dalam pidatonya, rektor juga mengingatkan kepada para wisudawan agar menyadari bahwa walau AI bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Namun mereka ini, ribuan wisudawan ini, tidak diwisuda hari ini karena bisa mendapat jawaban cepat itu.
"Ananda diwisuda karena telah belajar
berpikir. Itu yang tidak bisa digantikan
mesin," kata rektor.
Selain soal AI, rektor juga menyampaikan tentang bagaimana data yang dirilis oleh World Economic Forum bertajuk Global Risks Report 2026.
Rektor mengatakan, bahwa dari hasil laporan tahunan tersebut, yang memotret risiko dunia dari sudut pandang lebih dari seribu tiga ratus pemimpin dan pakar global, ada temuan yang patut direnungkan bersama.
"Untuk pertama kalinya, risiko tertinggi
dunia bukan lagi bencana alam atau
pandemi, melainkan konfrontasi
geoekonomi, disinformasi, dan polarisasi
sosial yang menjadi tiga risiko jangka
pendek teratas, sementara risiko
lingkungan mendominasi jangka panjang," kata Efa.
Dia juga mengatakan, dari laporan tersebut juga disebutkan bagaimana saat ini dunia memasuki zaman kompetisi yang ditandai fragmentasi dan konfrontasi.
"Yang lebih menarik bagi kita di dunia
pendidikan, risiko dampak buruk AI
melonjak paling tajam dibanding risiko
lain, dari peringkat ke-30 dalam proyeksi
dua tahun menjadi peringkat ke-5 dalam
proyeksi sepuluh tahun," ujarnya.
Maka dari itu, menurut pandangan rektor, teknologi yang hari ini terasa membantu,
sepuluh tahun mendatang bisa saja menjadi ancaman serius jika tidak dikendalikan dengan bijak dan beretika.
Rektor pun juga mengingatkan bahwa ketika seseorang telah lulus dan hendak memasuki dunia kerja, maka penting untuk menyiapkan diri, apalagi dengan kondisi dunia kerja yang penuh perubahan dan gejolak.
"Dunia kerja tidak lagi mencari lulusan
yang sekadar pintar. Dunia mencari
lulusan yang tangguh. Yang bisa
membedakan informasi benar dari bohong. Yang bisa beradaptasi cepat, di tengah ketidakpastian yang justru menjadi kepastian baru," kata Efa.
Sementara itu, saat diwawancarai wartawan usai prosesi wisuda III Unand hari kedua, Efa juga mengatakan bahwa dari sekian banyak lulusan yang wisuda ada juga yang berasal dari mahasiswa penerima KIP Kuliah (Program beasiswa bantuan dari pemerintah).
Yang cukup mengharukan, kata rektor, pada prosesi wisuda ini ada lulusan yang merupakan mahasiswa penerima KIP yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya adalah seorang nelayan dan ibu rumah tangga. Kedua orangtuanya pun hanya tamatan SD.
"Kini dia menjadi orang pertama di keluarganya yang berhasil meraih gelar pendidikan tinggi. Ini menjadikan KIP memang bisa memberikan kesempatan untuk pendidikan yang lebih baik, karena kuliah bukan hanya untuk orang kaya, tapi semua rakyat," tandasnya. (wy)