PADANG -- Memasuki awal tahun 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah. Curah hujan yang relatif tinggi, kondisi geografis Sumbar yang didominasi perbukitan serta sungai-sungai pendek dan terjal, menjadi faktor yang meningkatkan risiko banjir dan longsor. Hal ini terungkap dalam dialog interaktif bertema Prediksi Cuaca Awal Tahun 2026 dan Mitigasinya yang disiarkan melalui RRI Pro 1, Kota Padang, Jumat (2/1).
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumbar, Erasukma Munaf, menjelaskan bahwa karakter wilayah Sumbar membuat daerah ini sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Sungai-sungai yang pendek dan berbatu menyebabkan aliran air bergerak cepat saat hujan deras terjadi.
“Struktur wilayah kita ini bukit, sawah, dan sungai. Sungai kita pendek tapi terjal. Aliran yang muncul sekarang sejatinya adalah alur sungai lama. Alam sedang mengambil kembali miliknya,” ujar Erasukma.
Ia mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran sungai agar lebih berhati-hati, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Jika kondisi tidak memungkinkan dan hujan masih tidak menentu, masyarakat diminta mempertimbangkan evakuasi sementara demi keselamatan jiwa. BPBD Provinsi Sumbar, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, BMKG, serta forum kebencanaan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan di sejumlah daerah.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau BMKG, Desindra Deddy Kurniawan, menegaskan bahwa meskipun puncak musim hujan telah terlewati, Sumatera Barat masih berada dalam periode curah hujan yang cukup tinggi. Secara klimatologis, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan dapat kembali terjadi pada Maret hingga April 2026.
“Kita tidak boleh berhenti waspada. Curah hujan di Sumatera Barat masih cukup tinggi, dan kejadian hujan ekstrem dengan intensitas di atas 150 milimeter kini semakin sering terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi Sumbar yang berada di wilayah ekuator dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia membuat daerah ini menerima suplai uap air yang besar. Suhu muka laut yang tinggi turut meningkatkan peluang terbentuknya cuaca ekstrem, sehingga seluruh pihak diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan.
Dari perspektif pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, Koordinator Umum Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sumbar, Hidayatul Irwan, menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam membaca tanda-tanda alam serta menjaga keseimbangan lingkungan.
“Ancaman itu sudah nyata dan dampaknya sudah kita rasakan. Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Sumatera Barat ini iklimnya basah, hujan akan selalu ada,” ungkapnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG, meningkatkan kesiapan keluarga melalui tas siaga, serta lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
Sebagai informasi, BMKG memperkirakan musim hujan di Sumbar masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dengan potensi curah hujan yang masih fluktuatif. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, menghindari aktivitas di sekitar sungai saat hujan deras, mempersiapkan tas siaga, serta rutin memantau peringatan dini cuaca. Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan melindungi keselamatan bersama di awal tahun 2026. (kmf)