Faktual dan Berintegritas


AGAM -- Keindahan Ngarai Sianok kini tertutup awan mendung pasca-rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera Barat. Dinding tebing setinggi 120 meter dengan lebar 15 meter dilaporkan terkikis, menyisakan kerusakan lingkungan masif dan mematikan urat nadi ekonomi warga setempat.

​Titik longsor terparah terpantau berada di hulu ngarai, tepatnya di kawasan Ngarai Kaluang, Nagari Guguak Tinggi, Kecamatan Ampek Koto, Kabupaten Agam. Intensitas hujan yang tinggi pada Kamis (1/1) lalu menjadi pemicu utama runtuhnya material bebatuan.

​Walinagari Guguak Tinggi, Dasman, membenarkannya. Meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, dampak yang dirasakan warga sangat signifikan. Beberapa lahan persawahan  ikut amblas tertelan material longsor ke dasar lembah.

​"Hujan deras dengan durasi lama menjadi pemicunya. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun kami tetap menetapkan status waspada bagi warga yang bertani di sekitar bibir ngarai," ujar Dasman kepada awak media, Sabtu (3/1).

​Saat ini, warga Guguak Tinggi juga tengah menghadapi krisis air bersih. Sebuah video yang sempat viral memperlihatkan detik-detik longsor besar terjadi saat warga sedang berupaya memperbaiki infrastruktur air.

"Saat kejadian, lima warga kami sedang berjuang memperbaiki bak air yang menjadi sumber utama rumah tangga. Sekarang kami benar-benar kesulitan air bersih," tambah Dasman.

​Dampak bencana ini tidak berhenti di hulu. Di aliran sungai Ngarai Sianok yang masuk wilayah Bukittinggi, kondisi serupa juga mencekam. Debit air sungai terus meningkat drastis sejak banjir bandang akhir November lalu, yang mengakibatkan kerusakan fasilitas publik, termasuk robohnya sebuah musala bagi pengunjung.

​Kondisi fisik alam yang tidak stabil ini mengakibatkan sektor pariwisata mati suri. Wisatawan yang biasanya memadati kawasan lembah ini kini enggan berkunjung karena khawatir akan longsor susulan.

​Rahmat (35), salah seorang pelaku usaha wisata, mengaku usahanya kini lumpuh total.

"Saya menyewakan pelampung dan mobil offroad, tapi sekarang tidak ada aktivitas sama sekali. Wisatawan takut berkunjung sejak bencana ini. Ekonomi kami menurun drastis," keluhnya.

​Pemerintah Nagari  Guguak Tinggi telah melaporkan kerusakan ini kepada BPBD Kabupaten Agam untuk langkah mitigasi lebih lanjut. Koordinasi lintas wilayah, termasuk dengan pihak pengelola aliran sungai di Bukittinggi, terus dilakukan guna memberikan peringatan dini kepada masyarakat jika terjadi peningkatan debit air atau pergerakan tanah di hulu.
​Hingga berita ini diturunkan, warga diminta untuk menjauhi bibir ngarai dan aliran sungai, mengingat cuaca di wilayah Sumatera Barat masih sulit diprediksi dan potensi longsor susulan masih sangat tinggi. (gd/sgl)
 
Top