Faktual dan Berintegritas


PADANG -- Kemunculan lubang raksasa di tengah areal persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota terus menjadi perhatian masyarakat. Tempat itu ramai dikunjungi. Kebanyakan datang menggunakan kendaraan bermotor.

Lubang yang kedalamannya diperkirakan mencapai 10 meter saat ini sudah dipenuhi air. Bahkan airnya mengaliri persawahan di sana. Saking dalamnya lubang tersebut, air di permukaan terlihat berwarna biru.

Lalu, bagaimana tanggapan ahli geologi terkait kemunculan lobang raksasa tersebut?

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar, Dian Hadiyansyah, sebagaimana dikutip Langgam.id mengaku belum melakukan investigasi mendalam terkait fenomena tersebut. Namun demikian, secara umum ia menyebutkan kondisi geologi di Nagari Situjuh Batua tersusun dari batuan gunung api dan perbukitan karst (batu kapur) yang memiliki sistem sungai bawah tanah. “Kemungkinan lokasi kejadian lubang raksasa (sinkhole) itu masih merupakan satuan batuan karst atau batu kapur,” ujar dia, Senin (5/1).

Menurut Dian, terjadinya sinkhole atau amblasan diakibatkan rekahan batu gamping larut karena air, sehingga atap sungai bawah tanah runtuh. “Jadi rengkahan batu gamping tersebut, jika kena air mudah larut. Nah itu penyebab terjadi saluran atau sungai bawah tanah, sehingga runtuhnya atap dari sungai bawah tadi. Ketika atap tadi runtuh, itu terbentuk lubang,” jelasnya.

Ia mengimbau warga untuk tidak mendekati area lubang. Karena belum diketahui apakah kondisi lubang akan tetap atau semakin membesar. “Saran kami, untuk masyarakat, termasuk juga aparat berwajib, untuk tahap jangka pendek memberikan batas pengaman, agar tidak ada warga mendekati lubang. Karena kita tidak tahu apakah lubang ini bertambah atau tetap,” ujarnya.

“Untuk jangka panjang, kalau memang daerah karst, sudah terjadi amblasan, tentu harus perlu dipetakan sungai bawah tanah. Nanti takutnya ada ronga yang melewati permukiman penduduk,” sambung dia.

Dikatakannya, pemerintah daerah perlu menyurati kementerian ESDM, yakni Badan Geologi untuk menginvestasi secara lengkap fenomena tersebut. (*)

 
Top