Faktual dan Berintegritas

Ilustrasi Barito Post

PEMERINTAH berencana menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan. Rencana itu disebut sebagai upaya menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menyusul terjadinya perang Iran vs Amerika dan Israel.

Tak bisa disangkal bahwa perang di Timur Tengah telah berimbas ke berbagai kawasan  termasuk ke Indonesia. Salah satu imbasnya adalah terhadap ketersediaan BBM. Hal itu lantaran BBM yang dikonsumsi di Indonesia dibeli dari luar negeri alias impor. Apa hendak dikata, BBM produksi kilang dalam negeri tidak mencukupi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Apa hubungan WFH dengan hemat BBM? Mayoritas aparatur sipil negara (ASN) ke kantor menggunakan kendaraan, minimal sepeda motor. Hitunglah berapa jumlah ASN di Indonesia saat ini!

Badan Kepegawaian Negara (BKN) merilis data terbaru mengenai jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) per 1 September 2025 berjumlah 5.359.209 orang. Jumlah sebanyak itu, terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). 

Andaikan ada 3 juta ASN saja yang menggunakan kendaraan bermotor, rata-rata menghabiskan BBM 2 liter sehari kerja, maka 6 juta liter terhemat dalam sehari. Lumayan, jika ASN konsekuen tidak ke mana-mana di hari WFH dimaksud. Tapi jika ada kegiatan ke mana-mana, tentu akan lebih dari itu.

Akan lebih hemat lagi jika hal yang sama diterapkan kepada pelajar. Karena kita tahu, banyak pelajar sekarang menggunakan sepeda motor untuk pergi dan pulang sekolah, tentu akan semakin terjadi penghematan terhadap BBM.

Pertanyaannya, apakah ini satu-satu solusi? Apa tidak ada alternatif lain? Misalnya tidak ada WFH, semua ASN tetap masuk kantor, namun dilarang membawa kendaraan sendiri. 

Artinya, ASN pergi dan pulang kantor harus menggunakan angkutan umum. Begitu juga para pelajar. Bila alternatif ini dipakai, tentu akan menggairahkan usaha angkutan umum. ASN tidak libur, angkutan umum ketiban rezeki. 

Ini hanya alternatif sebelum pemerintah memutuskan solusi apa yang akan ditetapkan. Karena memang rela tak rela, Indonesia harus melakukan penghematan. Semoga kita semua bisa memaklumi kondisi terjadi sebagai dampak perang di Timur Tengah. Semoga! (Sawir Pribadi
 
Top