Faktual dan Berintegritas

Yus Dt. Parpatiah 

PADANG -- Ranah Minang kehilangan salah satu putra terbaiknya. Tokoh besar kebanggaan masyarakat Minangkabau, Yus Dt. Parpatiah, dikabarkan meninggal dunia Sabtu (28/3) pukul 16.30 WIB. Sang maestro menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 87 tahun di kediamannya, Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam.

​Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Kadis Kominfo, Roza Syafdefianti. Kepergian sosok yang dijuluki "Guru Besar" bagi masyarakat adat baik di ranah maupun di rantau ini, menyisakan duka mendalam bagi dunia kebudayaan Sumatera Barat.

Sebab bagi masyarakat Minangkabau, Yus Dt. Parpatiah bukan sekadar pemangku adat biasa. Ia adalah "perpustakaan hidup" yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk merawat falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

​A.F. Datuak Mantari Basa, dalam pernyataan duka citanya, menyebutkan bahwa warisan pemikiran almarhum telah menjadi kompas moral bagi banyak generasi.

​"Masyarakat adat Minangkabau pastinya kehilangan sosok yang merupakan guru besar bersama. Petatah-petitih dan seluruh karya beliau menjadi rujukan utama dalam memahami falsafah adat, nasehat, dan kurenah (perilaku)," ungkapnya.

​Datuak Mantari Basa juga menekankan bahwa sulit mencari pengganti yang sepadan dengan kedalaman ilmu almarhum. "Saya fikir tidak akan ada sosok seperti beliau di masa datang. Minangkabau kehilangan tokoh penting saat ini."

​Kiprah Sang Maestro: Dari Kaset hingga Sanubari Perantau

​Jauh sebelum era media sosial dan podcast menjamur, Yus Dt. Parpatiah telah menjadi pelopor "dakwah adat" melalui media rekaman. Sejak dekade 80-an, suara berat dan berwibawanya melalui label Tanama Record telah menghiasi lapau-lapau hingga rumah-rumah perantau Minang di seluruh penjuru dunia.

​Beberapa poin penting yang menandai kiprah emas beliau meliputi, Pendidikan Karakter Lewat Seni Narasi: Karya-karya legendarisnya seperti "Pitaruah Ayah" dan "Nasehat Ibu" menjadi panduan moral bagi pemuda Minang yang hendak melangkah ke dunia luar (merantau).

Beliau dikenal jenius dalam menyelaraskan aturan adat dengan nilai-nilai Islam, menjadikannya bahasa yang menyentuh hati dan mudah dicerna tanpa kehilangan esensinya.

Keahliannya membedah filosofi "Alam Takambang Jadi Guru" melalui petatah-petitih menjadikannya rujukan bagi para akademisi maupun praktisi adat yang ingin mendalami psikologi sosial Minangkabau.

​Meski jasadnya kini telah kembali ke pangkuan Sang Khalik, warisan ilmu dan ribuan jam rekaman nasehat yang ditinggalkan Yus Dt. Parpatiah akan tetap hidup. Bagi para perantau, suara beliau adalah pengingat identitas; bagi masyarakat di ranah, nasehat beliau adalah penjaga tatanan sosial.

​"Semoga segala ilmu, nasehat, dan petunjuk yang beliau berikan untuk masyarakat Minangkabau menjadi ladang amal jariyah bagi beliau. Amin," tutup A.F. Datuak Mantari Basa.

​Selamat jalan, Angku Yus Dt. Parpatiah. Tunai sudah tugasmu menjaga adat, kekal sudah namamu dalam sejarah panjang Minangkabau. (agd)
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top