DI SINI macet, di sana macet, di mana-mana terjadi macet. Di jalan gedang, di jalan layang ada macet. Di jalan kecil sebagai jalur alternatif pun macet. Itulah suasana Lebaran 1447 Hijriyah ini. Bukan hanya di Sumatera Barat, tetapi hampir di seluruh daerah.
Banyak orang berturo-turo karena macet. Banyak yang kesal karena macet. Banyak pula yang tidak sabar lantaran macet. Yang terakhir ini biasanya cenderung berdampak buruk, baik terhadap diri sendiri maupun kepada pengguna jalan lainnya.
Baru-baru ini beredar video di media sosial kejadian di jalur Padang-Bukittinggi, pemotor adu jotos dengan pengendara kendaraan roda empat. Peristiwa itu terjadi di tengah-tengah kemacetan lalu lintas.
Di tempat-tempat lain, banyak pengendara yang tidak sabar menghadapi kemacetan. Mereka menerobos ke jalur berlawanan arah, menyalip kiri-kanan. Akibatnya kemacetan kian parah. Itulah dampak ketidaksabaran.
Diinap menungkan, semua pengguna jalan pasti punya tujuan. Jika tak punya tujuan, tak mungkin menggunakan kendaraan di jalan. Bahkan banyak pula yang mungkin tagageh, namun tentu tidak harus dengan cara menerobos ke jalur berlawanan yang pada akhirnya kemacetan kian parah. Mulanya antrean diperkirakan hanya tiga puluh menit, namun dengan adanya kasus penyerobotan jalur berlawan arah, bisa jadi menjadi lebih. Semakin tidak ada yang mau mengalah, dipastikan kemacetan kian lama. Percayalah!
Harusnya tidak begitu. Kata orang-orang bijak, kita mestinya sabar menghadapi kondisi kemacetan. Sabar di dalam antrean, sehingga kendaraan dari arah berlawanan bisa mengalir dengan lancar. Apabila yang dari depan sudah mengalir secara lancar, otomatis masa tunggu di dalam antrean akan menjadi lebih pendek.
Tapi itulah sebagian kurenah dari kita, seperti orang tagageh semua. Tidak mau bersabar dalam kemacetan. Selagi ada celah, menyalip. Selagi ada peluang, masuk! Kadang tak peduli pula kendaraan orang lain yang tersenggol. Apabila ini yang terjadi, maka tidaklah mengherankan bisa berujung kepada adu mulut hingga adu pangka langan.
Macet memang di mana-mana. Tidak macet, bukan lebaran namanya. Tidak saja di jalan raya, di rumah makan atau tempat-tempat kuliner juga macet. Bahkan, pada toilet umum pun ada kemacetan. Begitu benarlah di negeri ini!
Hal demikian selalu berulang dari tahun ke tahun, apapun bentuk solusi yang ditempuh pemerintah tetap saja belum mangkus. Buka tutup di sini, di sana macet. One way di sini, di tempat lain macet panjang. Kadang bisa pula seperti manumbok kain lapuk. Namun kita berharap, tetaplah sabar. Bukankah selama satu bulan berpuasa bisa sebagai pembelajaran sabar? Ya, ya, maaf lahir dan batin... (Sawir Pribadi)