Faktual dan Berintegritas


PADANG -- "BUNGKUS (kelapa mudanya) satu," kata saya kepada seorang perempuan yang tengah asik mengupas kulit kelapa muda menggunakan ladiang tajam.

"Di sabalah, Da!" Jawabnya seraya menoleh ke arah kanannya.

Saya berjalan ke arah yang ditunjuk. Di sana ada seorang laki-laki lagi sibuk membungkus air kelapa muda dengan plastik.

Sekejap ia menoleh ke saya. "Bungkuih ciek, Da," ujar saya kepadanya.

"Ambiak nomor antrean dulu Da," balasnya.

Sejenak saya tergagap. Masa membeli kelapa muda pakai nokor antrean pula layaknya layanan di bank. Tapi rasa itu cepat saya netralisir. Bisa jadi sistem ini akibat tingginya permintaan kelapa muda selama bulan puasa.

Mata saya pun tertuju pada nomor-nomor yang terletak pada sebuah wadah. Satu nomor pun saya ambil, nomor 16.

Nomor itu saya sodorkan kepada lelaki yang masih sibuk membungkus pesanan pelanggannya. Saat itu tidak terlalu banyak orang yang antre menunggu pesanan.

"Pacik se lu Da," balas dia sambil terus mengikat pesanan dengan karet gelang.

Nomor antrean itu sepertinya sudah permanen. Terbuat dari kertas dan dilaminating seukuran 2,5 × 2,5 cm, sehingga tidak akan rusak terkena air.

Itulah yang terjadi di warung penjual kelapa muda di kawasan Alai, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang. Persisnya tidak jauh dari perlintasan kereta api, dekat simpang ke arah belakang Pasar Alai.

Di tempat itu terlihat tiga orang tengah sibuk dengan bidang tugas masing-masing. Satu perempuan yang di luar bertugas mengupas kulit kelapa dengan ladiang tajam. Di dalam, selain lelaki yang bertugas membungkus, ada seorang perempuan lagi yang bertugas membelah batok kelapa dan memisahkan dagingnya sebelum diserahkan kepala sang lelaki yang membungkus.

Agaknya sederhana sekali alasan penjual kelapa muda itu menggunakan nomor antrean, yakni agar pelanggannya tertib. Bila tidak demikian, maka ada di antara pembeli yang main serobot antrean.

"Dengan pakai nomor, pembeli akan tertib menunggu nomornya dipanggil," ujar lelaki tukang bungkus sambil menyerahkan pesanan saya.

Ternyata sistem nomor antrean tidak hanya berlaku di bank atau tempat-tempat pelayanan publik lainnya, penjual kelapa muda pun menerapkan hal itu. (sp)
 
Top