Faktual dan Berintegritas

Ilustrasi Suara Muslim Radio Network

MUSIM haji sudah semakin dekat. Keberangkatan jemaah calon haji tinggal menghitung hari. Sesuai jadwal yang disusun Kementerian Haji  pada 21 April 2026 nanti jemaah kelompok terbang (Kloter) pertama sudah masuk asrama dan diterbangkan menuju Madinah pada 22 April 2026.

Dalam penantian keberangkatan, sebagian calon jemaah haji berada dalam kegalauan dan kecemasan. Galau bercampur cemas karena situasi tidak kondusif  di Timur Tengah yang setiap hari menghiasi layar televisi dan media-media Tanah Air. Adalah manusiawi rasa khawatir itu muncul.

Bukan saja faktor keamanan, tetapi juga soal dampak yang ditimbulkan oleh situasi yang belum stabil tersebut. Salah satunya terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pesawat (avtur) akibat penutupan Selat Hormuz. Dengan naiknya harga avtur berdampak pada kenaikan ongkos pesawat. 

Diberitakan media ini kemarin, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan biaya pesawat haji naik gara-gara kenaikan harga avtur. Bahkan kenaikan ongkos pesawat bisa lebih tinggi lagi jika terjadi perubahan rute perjalanan akibat konflik di Timur Tengah.

Irfan mengatakan  pada penetapan BPIH 2026 biaya rata-rata penerbangan haji per jemaah Rp 33,5 juta. Namun kenaikan harga avtur global, serta pelemahan nilai tukar rupiah, biaya tersebut meningkat signifikan.

Dia menyebut Garuda Indonesia dan Saudia Airlines yang akan bertugas mengangkut jemaah Indonesia telah menyurati Kemenhaj terkait penambahan biaya perjalanan. Jika harus memakai rute alternatif akan ada penambahan waktu perjalanan sekitar 4 jam serta penambahan konsumsi avtur sekitar 12 ribu ton. 

Maskapai Garuda melalui surat nomor Garuda/Jakarta DZ/ 20181-2026 mengusulkan tambahan Rp 7,9 juta per jemaah pada harga avtur USD 116 per liter. Sedangkan Saudi Airlines melalui surat nomor 11732247/11501-April 2026 mengusulkan tambahan sebesar Rp 8,1 juta. 

Untuk skenario perubahan rute, maka biaya tambahan akan lebih tinggi lagi. Irfan mengatakan kenaikan harga tiket pesawat untuk perubahan rute perjalanan haji bisa mencapai lebih dari 50%. 

Hal-hal seperti inilah yang dikhawatirkan oleh para jemaah calon haji. Apalagi jemaah yang berangkat dengan uang pas-pasan, tidak punya cadangan,  tabungan atau simpanan, pasti pusing. Dengan apa mau ditambah sekitar Rp10 juta itu. 

Tapi, dalam situasi seperti ini Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak akan membebani jemaah dengan kenaikan ongkos pesawat dimaksud. Malah sebaliknya Prabowo menyatakan biaya jemaah calon haji tahun ini diturunkan Rp2 juta.

Kita tentu bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Presiden Prabowo yang mengambil kebijakan  sangat bijak dengan memperhatikan kondisi masyarakat. Kebijakan ini jelas sangat berani. Di tengah kenaikan harga avtur, penambahan ongkos pesawat dan kemungkinan juga terjadi penambahan rute penerbangan, justru presiden menurunkan biaya hingga Rp2 juta per-jemaah. 

Dipikir-pikir tentu tidak masuk alah. Tapi itulah Prabowo yang setiap saat selalu mengatakan bekerja untuk rakyat, maka inilah buktinya.

Oleh karena itu, masyarakat sangat patut berterimakasih kepada Presiden Prabowo. Kita berharap pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lancar, tanpa halangan dan gangguan. Semoga Allah senantiasa melindungi seluruh jemaah haji dan negeri ini pun terhindar dari hal-hal buruk. Aamiin! (Sawir Pribadi)
 
Top