TAK ada yang bisa membantah bahwa Sumatera Barat itu cantik. Tak ada pula yang berani menggelengkan kepala bahwa Ranah Minang itu indah. Malah sebaliknya banyak yang mengatakan bahwa Sumatera Barat ibarat sepotong surga yang dilemparkan ke bumi.
Ini adalah ril. Sumatera Barat benar-benar rancak. Bukan banya satu titik, melainkan merata di seluruh kabupaten dan kota. Di mana pun berdiri, akan terlihat tampilan keindahannya.
Dari dataran rendah sampai dataran tinggi, sajian kecantikan terpajang begitu nyata. Mulai dari lembah, sungai, hamparan sawah, danau laut, kebun, hutan hingga puncak gunung akan melahirkan decak kagum yang memandangnya.
Begitu besar dan meratanya rahmat Allah dilimpahkan ke bumi Sumatera Barat. Hal yang mungkin tidak diperoleh dan dimiliki daerah lain tentunya.
Ada satu lagi kelebihan Sumatera Barat yakni di segi kuliner. Aneka penganan yang diproduksi tangan-tangan bundokanduang sudah terkenal lezat. Bukan untuk lidah lokal, regional dan nasional, kuliner Sumbar sudah mendunia, seperti randang, nasi goreng, ayam pop, ayam balado, masakan Kapau hingga teh talua. Walau daerah lain mencoba memproduksinya, namun tidak bisa mengalahkan racikan tangan urang Minang.
Dengan kelebihan itulah agaknya Sumatera Barat menjadi tujuan bagi wisatawan. Setidaknya masyarakat dari provinsi tetangga seperti Riau, Jambi, Bengkulu dan lainnya lebih memilih berwisata ke Sumbar. Tidaklah mengherankan di setiap akhir pekan jalanan di daerah ini macet oleh kendaraan yang berdatangan dari berbagai penjuru. Apatah lagi di musim libur dan lebaran.
Pada lebaran setiap tahun, jutaan perantau yang pulang kampung bisa dipastikan mengunjungi tempat-tempat yang indah itu. Ada yang mengunjungi laut, danau, sungai, lembah, gunung atau sekadar melihat hamparan sawah dan bentangan areal perkebunan yang ada sambil mencicipi beragam kuliner dimaksud.
Sayang seribu kali sayang, kelebihan Sumbar itu belum dimanfaatkan secara baik dan profesional, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakatnya. Bahkan terkesan masyarakat acap tidak sejalan dengan pemerintahnya.
Ini bukan omong kosong. Sering terdengar keluhan dari pengunjung objek wisata terkait beberapa hal, antara lain harga makanan dan minuman di luar nalar, tarif parkir main getok, bayar di depan pula, kebersihan kawasan tidak terjaga, tidak tersedianya toilet, kalaupun tersedia namun tidak bersih dan retribusinya mahal.
Segala yang dirasakan pengunjung itu dicurahkan melalui media sosial, sehingga gaungnya sudah ke mana-mana. Sebagai contoh pada lebaran 1447 H kemarin, ada warga mengeluhkan harga semangkok mie rebus mencapai Rp25.000, tarif parkir Rp20.000 dan sebagainya. Tempo hari juga ada keluhan wisatawan yang mengaku datang jauh-jauh dari Bali ke salah satu destinasi wisata, di pintu gerbang ada orang tertentu memungut uang masuk tanpa karcis.
Contoh-contoh di atas adalah peristiwa berulang. Nyaris setiap lebaran keluhan itu ada. Perantau membawa kekecewaan ke perabtauan. Sesama urang Minang pun main pakuak, apalagi terhadap wisatawan. Kenapa tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik? Kenapa pengunjung objek wisata sering dikecewakan hanya oleh ulah segelintir orang?
Inilah bukti bahwa Sumatera Barat hanya punya anugerah keindahan alam dari Sang Maha Pencipta, namun belum siap lahir batin menjadi daerah tujuan wisata. Maksudnya semua pihak belum siap. Pemerintah daerah belum siap, apalagi masyarakatnya.
Kenapa di Bali misalnya semua stakeholder bisa siap lahir batin daerahnya jadi tujuan wisata dunia? Kenapa Sumbar tidak belajar ke daerah itu? Kenapa Sumbar tidak bisa menyamakan persepsi tentang kepariwisataan?
Oleh karena itu, jika memang Sumbar mau memajukan sektor pariwisata, semuanya harus siap. Tidak bisa hanya siap di mulut atau lewat pidato-pidato di atas podium, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan. Dengan cara itu, baru Sumbar akan menjadi destinasi utama pariwisata Nusantara.
Jika tidak, maka begini-begini sajalah Sumbar dari tahun ke tahun. Daerah bagus, tapi tidak siap lahir batin, tidak ditata luar dalam sehingga wisatawan hanya memperoleh kekecewaan. Percayalah wisatawan pasti bukan hanya mencari keindahan, tetapi juga ketenangan dan kenyamanan lahir batin. Setelah mendapatkan itu, mereka pulang dengan senyum kepuasan. (Sawir Pribadi)