Faktual dan Berintegritas

Ilustrasi foto VIVA Tangerang

SEPERTINYA dunia pendidikan di negeri ini kian buruk. Banyak hal-hal di luar nalar terjadi. Terakhir seorang guru dikeroyok siswanya sendiri. Siswa yang harusnya segan, hormat atau menjadikan gurunya sebagai orangtua di sekolah, malah bersikap brutal.

Kejadian guru di keroyok oleh siswa-siswanya terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Miris!

Peristiwa siswa mengeroyok guru tersebut viral di media sosial sejak Selasa (13/1/2026). Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab dari peristiwa itu. Ada yang menyebut sang guru diduga menampar salah satu siswanya gara-gara menyapa dengan kalimat tak pantas.

Apapun alasannya, guru dikeroyok belasan hingga puluhan anak didik sendiri adalah kejadian langka. Namun  era sekarang, apa-apa yang langka di masa lalu nyata terjadi.

Setuju atau tidak, hari ini mata kita benar-benar menyaksikan hal-hal yang tabu di masa lalu. Guru dikeroyok siswa sendiri hanyalah salah satu dari begitu banyak persoalan kasat mata di dunia pendidikan. Sebutlah oknum guru yang melakukan tindak asusila, guru yang diduga terlibat kriminal dan lain sebagainya.

Dari sisi etika banyak pula guru yang melakukan aksi menjadi 'simpanan', merebut pasangan lain, memamerkan hal-hal tidak pantas di media sosial, bersikap kurang terpuji dan lain sebagainya.

Itu di sisi guru. Di sisi peserta didik, betapa banyaknya anak-anak yang terlibat tawuran hingga kejahatan. Pelajar yang tidak menghargai guru, orangtua dan masyarakat. 

Lebih dari itu, betapa banyak hari ini kita melihat dan menyaksikan pelajar terlibat kejahatan, mengkonsumsi narkoba, dan lain sebagainya hingga harus berurusan hukum. Sekali lagi miris!

Ini adalah persoalan serius bangsa. Pemerintah dan DPR tidak boleh menutup mata. Persoalan begini harus dicarikan formulasi yang baik, agar dunia pendidikan tidak semakin parah. Segala undang-undang dan aturan yang bersentuhan dengan pendidikan mesti dikaji lagi. Jika tidak  kita khawatir suatu saat guru dan pelajar jalan sendiri-sendiri saja. Guru bisa-bisa hanya mengajar saja lagi, namun tidak mau mendidik, lantaran takut jadi bulan-bulanan massa dan hukum positif.

Sebagai tambahan saja, sekarang sudah banyak guru yang terpaksa mengurut dada. Mereka membiarkan saja anak didik mau berbuat apa. Ditegur, takut jadi pesakitan. (Sawir Pribadi)
 
Top