Pergerakan angin turut memengaruhi penyebaran asap ke sejumlah kawasan di Sumatera bagian selatan, termasuk Sumbar.
“Sumatera Barat termasuk daerah yang berada di kawasan tersebut. Sehingga sejak 15 Oktober lalu hingga sekarang, kualitas udaranya masih parah,” ujar Sugeng, Senin (19/10/2026).
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan mengingatkan pentingnya pemantauan kondisi cuaca secara berkala menjelang November–Desember.
Menurutnya, perubahan pola atmosfer dan angin muson akan memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai wilayah.
Ia menegaskan, meningkatnya curah hujan tidak serta-merta menghilangkan seluruh potensi kebakaran. Di sisi lain, hujan dengan intensitas tinggi juga dapat memicu bencana hidrometeorologi sehingga diperlukan langkah antisipasi terhadap kedua potensi tersebut.
Karena itu, penanganan perlu difokuskan pada tiga prioritas utama, yakni mencegah terjadinya kebakaran, mempercepat respons terhadap kejadian kebakaran dan penurunan kualitas udara, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana akibat cuaca ekstrem. (*)