Faktual dan Berintegritas

 

Ilustrasi Republika 

PULANG kampung bagaikan sunat muakad bagi orang Minang. Merantau jauh, apalagi merantau dekat-dekat, ketika Idul Fitri perlu pulang kampung. Serasa ada yang kurang dalam hidup jika tidak sempat pulang kampung.

Bagi kebanyakan orang Minang, pulang kampung bukan hanya mendatangi orangtua atau keluarga, tapi lebih dari itu. Hubungan emosional dengan tanah leluhur tak bisa putus hanya gara-gara lama di tanah rantau.

Karenanya, rata-rata orang Minang punya tabungan atau celengan yang diniatkan untuk biaya pulang kampung. Tak bisa dengan pesawat, jalan darat puluhan jam pun  tak masalah asal tiba di kampung. Macet berjam-jam seakan sirna ketika sampai di kampung.

Banyak hal menarik yang dialami oleh orang Minang setelah tiba di kampung. Selain bernostalgia, juga ada hal-hal baru tentang kampung yang perlu diberikan kepada keluarga dan anak cucu.

Begitu nikmatnya pulang kampung, dan menciptakan cerita menarik. Misalnya antre untuk mandi dan buang air saat bangun pagi menjelang shalat Id. Jika hanya dua atau tiga orang tentu tidak terlalu seru, tapi jika sudah beberapa keluarga dengan jiwa belasan orang maka itulah yang lebih seru. 

Bayangkan jika ada empat atau lima keluarga berkumpul di satu rumah gadang atau rumah tua yang hanya punya satu kamar mandi dan satu toilet. Semua ingin duluan mandi atau buang air. Maka di sinilah diperlukan kearifan.

Kearifan orang Minang itu adalah pandai membaca situasi. Alun takilek alah takalam. Jika macet di kamar mandi, maka cari tempat mandi alternatif. Umpamanya mandi ka batang air atau ke pancuran. Di kampung-lah itu yang ada.

Maka antrean ke kamar mandi adalah kenangan terindah untuk jadi bahan cerita hingga akhirnya dibangun kamar mandi satu atau dua lagi. (.

 
Top