Faktual dan Berintegritas

Ilustrasi RiauSky.com

PRESIDEN Prabowo Subianto kembali mencurahkan perasaannya di hadapan umum. Ia bicara tentang sebagian elite yang nyinyir, kerjanya hanya menghujat kerja pemerintah di media sosial. Prabowo pun mengaku bingung dengan sikap demikian.

Curhat Prabowo itu meluncur pada acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1). Awalnya, ia mengapresiasi kinerja petani di seluruh Indonesia. Karena, berkat petani, Indonesia mampu swasembada pangan saat ini.

Alhamdulillah jika memang Indonesia sekarang sudah swasembada pangan. Artinya ke depan kita tidak lagi melakukan impor, terutama beras. Dengan demikian, hasil usaha petani menjadi dihargai sekaligus sumber energi bagi bangsa Indonesia.

Kita bangga. Bangga dengan petani sebagaimana halnya dengan kebanggaan yang diucapkan Presiden Prabowo di hadapan masyarakat Karawang dimaksud. Kebanggaan terhadap petani tidaklah berdiri sendiri. Ia bersandingan dengan kebanggaan  terhadap pemerintah serta semua pihak yang ikut andil pada keberhasilan tersebut.

Di balik kebanggaan pada pemerintah, ada catatan kecil terkait curhatan Presiden Prabowo. Ia menyebut ada elite yang selalu nyinyir di media sosial. Ia menyebut elite demikian kerap menghujat, bahkan memfitnah pemerintah. Dia mengatakan apa yang dilakukan pemerintah selalu dipermasalahkan.

Kita paham, Prabowo telah bekerja bersama kabinetnya. Ini tentu perlu diapresiasi. Adanya pihak-pihak yang nyinyir di dalam negara demokrasi adalah hal yang wajar. Bukankah salah satu ciri demokrasi adalah menghargai beda pendapat? Jika ini dipahami, maka pemerintah tidak perlu panas dan tidak pula perlu di-curhat-kan kepada rakyat. Karena itu hanya sejenis buang-buang energi.

Tugas pemerintah adalah bekerja sesuai garisan yang ada. Ibarat kereta api, tetaplah berjalan pada rel. Atau ibarat kendaraan bermotor, teruslah melaju, namun harus mematuhi rambu-rambu yang ada. Melanggar, berarti mengundang celaka. Jika ada yang tidak pada jalurnya, rakyat pun berhak membunyikan 'klakson'.

Bagi pemerintahan di bawah nakhoda Presiden Prabowo Subianto sekarang, jika ada masyarakat atau elite yang nyinyir di media sosial, niarkan saja. Karena memang medsos salah satu wadahnya. Tidak mungkin mereka bicara langsung dengan seorang presiden atau pembantunya yang harus melalui berbagai prosedur dan birokrasi. 

Masyarakat atau elite yang nyinyir itu belum tentu karena benci atau sinis. Bahkan sebaliknya, bisa saja itu sebagai wujud rasa sayang kepada pemerintahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama. 

Sebagai ilustrasi lihatlah orang tua dalam mengasuh, mendidik dan membina anak-anaknya kerap nyinyir. Mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi, kerap dinyinyirin bahkan terkadang dimarahi. Semuanya demi kebaikan. 

Begitu juga hendaknya apa yang diterima pemerintahan saat ini, jika memang ada yang nyinyir anggaplah sebagai wujud rasa sayang, jangan dijadikan musuh. Apabila yang dinyinyirin ternyata tidak benar  masukkan telinga kiri  keluarkan telinga kanan. Jangan dijadikan bahan curhatan kepada masyarakat. Karena hal itu hanya buang-buang energi dan yang terbiasa nyinyir akan tetap nyinyir. Lebih dari itu, curhatan di depan umum bisa-bisa membuat seorang presiden lemah di mata masyarakat. (Sawir Pribadi)
 
Top