foto: Poskota News. 

JAKARTA - Lapar tengah malam di Jakarta, taragak makan nasi kapau yang murah meriah, maka Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat adalah alternatif utama. Di tempat ini berjejer warung-warung tenda di sepanjang trotoar.

Mereka adalah pedagang-pedagang asli dari Ranah Minang. Asal mereka pun dari berbagai daerah  seperti dari Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Solok, Piaman dan lainnya.

Menu yang tersedia di kawasan itu pun beragam, layaknya makan di kampung sendiri. Ayam goreng, ayam gulai, ayam bumbu, ayam balado, dendeng masiak, dendeng lambok, tambunsu, gajeboh, tunjang, goreng baluik, ikan, dan lainnya, itu sudah pasti ada. Begitu juga dengan randang, tidak ketinggalan. Bahkan, tersedia abuih patai dan sambalado yang mencirikan sebagai masakan kampuang. Benar-benar rasa makan di rumah sendiri!

Tak hanya itu, penganan tradisional Minang pun banyak tersedia di sana. Mulai dari lamang, lamang baluo, sarikayo, keripik balado, sanjai, kipang kacang dan lain sebagainya ada.

Kini, warung-warung tenda itu tidak ada lagi. Mereka direlokasi oleh Pemerintah DKI Jakarta, karena ada pelebaran trotoar.

Walau mendukung pembangunan prasarana umum tersebut, namun para pedagang nasi kapau itu pun merasa sedih. Mereka sedih akan kehilangan pelanggan. Bahkan, ada yang tidak tahu mau berjualan di mana lagi selama pelebaran trotoar berlangsung.

Yang pasti saat ini, para pedagang sudah mengosongkan lapak-lapak mereka.  Di antara pedagang tersebut akan dipindahkan ke lahan di belakang. "Rencananya nih, kemarin ini kan semua mau dibongkar, jadi relokasinya pindah ke belakang semua nih," kata seorang pedagang bernama Ani sebagaimana dikutip detikcom.

Wakil Walikota Jakarta Pusat, Irwandi mengatakan proyek pelebaran trotoar akan dilakukan selama satu sampai dua bulan. Dengan demikian, selama itu pula pedagang nasi kapau tidak akan terlihat di sepanjang trotoar Kramat Raya tersebut.

Kalau memang nanti dibolehkan berdagang di tempat itu kembali, maka tentu akan gampang mencari para pedagang nasi kapau dimaksud. Sebaliknya, jika Pemkot Jakarta Pusat tidak mengizinkan mereka berdagang di tempat itu lagi, jelas urang awak yang menggantungkan hidup dari jualan nasi itu akan berpencar-pencar.

Semoga setelah trotoar selesai nanti, Pemkot Jakarta Pusat membolehkan lagi mereka membuka usaha di tempat itu kembali. Apalagi, trotoar yang dibangun saat ini selebar 8 meter. (sp)
 
Top