PADANG -- Universitas Andalas (Unand) memulai wisuda di 2026 dengan meluluskan sebanyak 1.333 mahasiswanya, Sabtu (14/2) di auditorium kampus tersebut.
Untuk diketahui, Unand setiap tahun menggelar wisuda sebanyak 5 sampai 6 kali.
Beda dengan wisuda di beberapa periode sebelumya, prosesi wisuda I 2026 ini rektor secara langsung memindahkan tali toga seluruh wisudawan. Sebelumnya hanya perwakilan saja, biasanya dari lulusan terbaik.
Rektor Unand, Efa Yonnedi kepada wartawan usai prosesi wisuda menjelaskan, kebijakan ini diambil guna meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan bagi mahasiswa dan orang tua.
“Biasanya pada wisuda sebelumnya, pemindahan toga oleh rektor hanya bersifat simbolis. Kali ini, toga dipindahkan langsung oleh rektor dan ijazah diserahkan langsung oleh dekan. Ini untuk memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi mahasiswa dan orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, sistem terpusat ini juga lebih efisien. Pada pola sebelumnya, wisuda dilaksanakan di dua level—fakultas dan universitas—yang kerap membutuhkan banyak gedung dan ruangan. Di sisi lain, jumlah lulusan di beberapa fakultas pada periode tertentu tidak selalu memadai untuk menggelar prosesi tersendiri.
“Kalau universitas hanya simbolis, ada lulusan yang tidak mendapatkan momen terakhir yang utuh bersama universitas. Karena itu, dengan dukungan seluruh dekan, mulai periode ini wisuda kita laksanakan secara terpusat,” jelasnya.
Sementara itu, dalam pidatonya di prosesi wisuda tersebut, rektor menekankan untuk menjadikan momentum ini tidak sekadar seremoni akademik, tetapi juga menjadi refleksi atas tantangan global yang kian kompleks dan penuh ketidakpastian.
Menurutnya, para lulusan memasuki dunia yang berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Apalagi tatanan lama tengah runtuh, sementara tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk.
“Saudara lulus dalam dunia yang sedang berada di tepi ketidakpastian yang semakin tinggi, di mana tatanan lama sedang runtuh dan tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk jelas,” ujarnya.
Ia menggambarkan perjalanan para sarjana ke depan akan menembus dua “kabut tebal”. Kabut pertama adalah misinformasi dan disinformasi.
Mengutip laporan World Economic Forum tahun 2026, disinformasi ditempatkan sebagai salah satu risiko global terbesar. Misinformasi yang lahir dari ketidakakuratan maupun disinformasi yang sengaja memutarbalikkan fakta dinilai berpotensi menyesatkan publik dan membentuk opini yang keliru.
Kabut kedua adalah krisis bumi. Perubahan iklim ekstrem, menurut rektor, ini bukan lagi dongeng masa depan, melainkan kekuatan struktural yang dapat menenggelamkan kota, merusak infrastruktur, hingga mematikan aktivitas ekonomi dalam waktu singkat.
Meski demikian, ia menegaskan sikap optimistisnya dengan merujuk pemikiran ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz. Krisis, katanya, adalah momentum untuk menata ulang kontrak sosial. Masa depan tidak ditentukan oleh ramalan, melainkan oleh keputusan yang diambil hari ini.
Di tengah masifnya otomasi dan penggunaan robot, sekitar 44 persen keterampilan kerja diperkirakan berubah dalam lima tahun ke depan. Namun, Rektor menekankan bahwa empati, penilaian etis, dan pengawasan moral tetap menjadi peran yang tidak tergantikan oleh mesin.
Pada kesempatan itu rektor juga menyampaikan tiga pesan kepada wisudawan, menjaga ketajaman berpikir kritis dan analitis; terus belajar melalui meta learning agar adaptif terhadap perubahan; serta berkontribusi pada pembangunan inklusif dan berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan. (wy)