Faktual dan Berintegritas


MASA kepemimpinan duet Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin telah berjalan dua tahun. Masih ada tiga tahun lagi waktu tersisa bagi keduanya bersama anggota kabinet untuk menyelesaikan program kerja.

Setuju atau tidak, masa tiga tahun ke depan, bakal ada 'godaan' yang bisa saja memecah konsentrasi para menteri. Hal itu lantaran adanya pemilihan umum di tahun 2024 mendatang. Rangkaian pesta demokrasi tersebut diprediksi bisa mengakibatkan para menteri gagal fokus, karena terdistraksi misi politik masing-masing. 

Pendiri lembaga Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio (Hensat) berpendapat, tak hanya para menteri, ketua-ketua parpol di koalisi Jokowi akan fokus mengurus parpolnya masing-masing menghadapi Pemilu 2024. Di antara ketua dan pengurus Parpol tersebut ada yang duduk di kabinet.

Menurut Hensat, efek Pemilu 2024 yang bisa bikin gagal fokus bisa jadi terasa lebih awal lagi. Soalnya, tahapan Pemilu 2024 bakal dimulai pada Januari 2022 dan itu tinggal beberapa bulan lagi. Akankah dugaan gagal fokus itu bisa terjadi pada menteri di kabinet?

Memungkinan itu bisa saja terjadi. Sebagai ketua atau pengurus partai politik, pasti mereka ingin partainya jadi yang terbaik dan yang dipilih masyarakat pada Pemilu 2024 mendatang. Sebab, pemilu sekaligus sebagai pertaruhan harga diri bagi ketua dan pengurusnya. Partai politik yang banyak dipilih masyarakat pasti akan berpengaruh besar pula terhadap banyak hal, termasuk pada pemilihan presiden. Imbasnya juga berpengaruh pada pemilihan kepala daerah.

Untuk itu, seorang ketua partai politik akan berupaya mati-matian membesarkan parpol masing-masing. Ini yang dikhawatirkan bisa memecah konsentrasi atau menjadikan menteri gagal fokus nantinya. 

Agaknya ini sedapat mungkin dihindari demi keberlangsungan program kerja kabinet. Setidaknya apa yang telah menjadi program bagi Jokowi-Ma'ruf Amin bisa terselesaikan dengan baik dan perjalanan pemerintahan sekarang bisa happy ending. Sebaliknya, apabila para menteri diperkirakan tidak akan bisa fokus lagi di tiga tahun terakhir ini, alangkah lebih ksatria untuk mundur.

Ya, mundur sekarang lebih terhormat ketimbang gagal fokus mengurus program kerja untuk rakyat yang berakibat gagalnya kabinet secara umum. Sebab, mengurus dua hal besar dalam waktu bersamaan adalah sulit.

Untuk itu, sebaiknya para menteri yang ada di Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin sekarang fokus sajalah mengurus program kerja yang sudah ada. Dahulukanlah kepentingan bangsa dan negara ketimbang kepentingan kelompok. Semoga semua baik-baik saja dan pemerintahan Jokowi berakhir dengan manis. Inilah yang akan dikenang oleh masyarakat dan generasi berikutnya. Semoga! (Sawir Pribadi)

 
Top