PRESIDEN Prabowo baru saja melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri. Pelantikan tersebut sekaligus menandai dimulainya kepemimpinan baru di BGN.
Pelantikan Sudaryono bertepatan dengan banyaknya komentar miring terkait makan bergizi gratis (MBG) yang diperuntukkan bagi pelajar di Tanah Air. Komentar miring lebih banyak disebabkan pelayanan dan kualitas makanan yang diterima anak sekolah.
Namanya makanan bergizi tentu harusnya memiliki kandungan gizi yang cukup sesuai kebutuhan anak-anak. Jika makanan yang diantar ke sekolah setiap hari hanya itu ke itu saja, jelas gizinya tidak seimbang. Apabila makanan yang diantar ke sekolah tidak menarik bagi anak-anak, maka ia akan kembali ke dapur sebagai makanan sisa, sekalipun belum disentuh.
Inilah yang banyak! Makanan yang diantar petugas dari dapur ke sekolah bersisa. Ada yang dimakan sedikit dan bahkan ada pula yang tidak disentuh. Kenyataan begini jelas sebagai pemubaziran, sekaligus 'pembuangan' uang negara, uang rakyat.
Lebih dari itu. Selama ini banyak terjadi kasus keracunan pada pelajar yang penyebabnya diduga dari MBG. Tidak terhitung lagi anak sekolah sehabis mengkonsumsi MBG dilarikan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan.
Inilah di antara persoalan yang terjadi di BGN. Belum lagi persoalan-persoalan yang terkait hukum dengan puncaknya menimpa bekas kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua wakilnya yakni Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Kini Sudaryono hadir. Kehadirannya tentu diharapkan membawa perubahan positif terhadap BGN hingga ke hilir. Segala persoalan yang terjadi sebelumnya diharapkan tidak terjadi lagi. Jika memang program MBG diteruskan, maka adalah sangat penting melakukan perubahan di berbagai sektor, di antaranya perlu menata kembali siapa saja yang berhak menerima MBG. Anak orang kaya agaknya tidak berhak menerimanya, karena kita yakin di rumah mereka setiap saat memperoleh asupan gizi baik dari makanan maupun minuman.
Selanjutnya kepada anak-anak penerima MBG perlu diantar makanan yang segar, agar terhindar dari 'serangan' bakteri dan enak dikonsumsi. Bukankah jika di rumah orang tua mereka selalu menyuruh anak-anak mereka makan selagi makanannya hangat.
Berikutnya perlu makanan bervariasi. Menu berganti setiap hari, agar tidak menimbulkan kebosanan bagi anak. Jangan lupa makanan yang diantar haruslah higienis beserta wadahnya.
Harapan demikian tentu tertumpang kepada Sudaryono yang dilantik Presiden Prabowo tempo hari. Ingat, jangan terulang lagi kasus keracunan pada anak setelah menyantap MBG di sekolah.
Terakhir makanan yang diantar kepada anak-anak itu berasal dari uang rakyat, jangan ada lagi yang menyalahgunakan apalagi dipakai buat kepentingan pribadi dan keluarga. Jangan jadikan MBG sebagai bisnis, jangan mencari untung besar. Mudah-mudahan program ini benar-benar mampu memperbaiki gizi generasi ke depan, bukan program politis sebagai wadah 'penyemaian' suara untuk Pemilu 2029. Semoga! (Sawir Pribadi)