Faktual dan Berintegritas

Tangkapan layar 

ADA video sangat menarik melintas di beranda media sosial saya pagi ini. Sebuah masjid di kawasan Jakarta Barat menerapkan Jumat Berkah dengan berbagi sayuran.

Puluhan jemaah keluar dari masjid usai menunaikan shalat Subuh. Di halaman masjid sudah ada meja yang berjejer rapi.

Jejeran meja dibagi dua, yakni meja untuk jemaah laki-laki dan meja untuk jemaah perempuan. Di setiap meja sudah diisi aneka sayuran seperi kacang panjang, wortel, tomat, jagung muda, hingga cabai dan lainnya.

Jemaah-jemaah yang keluar dari masjid tersebut lantas mengambil kantong kresek, lalu mencomot aneka sayuran tersebut secukupnya. Ada juga yang diambilkan oleh petugas. Tertib sekali terlihat.

Itulah yang dilakukan oleh pengurus Masjid Uswatun Hasanah PC Muhammadiyah Kedaung, di Jalan Raya Daan Mogot Jakarta Barat. Dalam caption  video pendek tersebut, peristiwa sosial itu diambil pada jumat 3 Mei 2024 lalu.

Soal Jumat Berkah, kita yakin banyak masjid yang melakukannya. Kebanyakan adalah berbagi makanan seperti nasi bungkus, nasi kotak, berbagi kue dan lain sebagainya. Dari masyarakat, untuk masyarakat. Tapi yang berbagi aneka sayuran, mungkin tidak banyak, bahkan mungkin hanya di masjid yang ada dalam video tersebut.

Secara luas, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat muslim. Masjid juga mengusung fungsi sosial. Di masa-masa perjuangan dalam sejarah bangsa, strategi untuk mengalahkan penjajah banyak diatur dari masjid. Bahkan hingga hari ini masih banyak pertemuan-pertemuan untuk kepentingan masyarakat dilakukan di masjid.

Sebagai fungsi sosial, harusnya masjid tidak hanya menerima infak, sedekah atau wakaf dari masyarakat, terutama dari jemaah, tetapi lebih dari itu. Bagaimana masjid bisa meringankan beban masyarakat, terutama beban jemaah kurang mampu. Agaknya inilah momen yang diambil oleh pengurus masjid yang ada dalam video dimaksud.

Kita tidak boleh menutup mata bahwa masih banyak masjid di negeri ini yang belum maksimal menjalankan fungsi sosial. Masih banyak masjid yang hanya menerima sumbangan, infak, sedekah atau lainnya, lalu dimanfaatkan untuk membangun fisik. Dengan sumbangan, infak dan sedekah masyarakat itu, bangunan masjid menjadi megah, indah dan nyaman. 

Sebaliknya ada yang lupa atau mungkin juga dilupakan bahwa di sekitar masjid ada masyarakat yang hidup susah, ekonomi morat-marit bahkan ada yang sakit tanpa diobati. Terhadap yang begitu, banyak masjid yang tidak melakukan tindakan.

Kita tidak bicara soal dosa atau pahala. Kita hanya bicara soal fungsi sosial masjid. 

Oleh karena itu, alangkah mulianya pengurus masjid yang melakukan Jumat Berkah dengan berbagi sayuran atau bahan makanan. Ini artinya berbagi makanan instan bukan tidak bagus lho!

Tangkapan layar 

Berbagi sayuran atau bahan makanan, misalnya beras, telor atau minyak goreng dan lainnya akan lebih baik dari makanan instan. Berbagi nasi bungkus misalnya tentu bisa untuk sekali makan oleh satu orang. Tetapi jika yang dibagikan adalah bahan mentah seperti yang disebutkan di atas, diyakini bisa meringankan beban ekonomi satu keluarga. Percayalah!

Maka, alangkah baiknya jika apa yang dilakukan pengurus Masjid Muhammadiyah Daan Mogot, Jakarta Barat tersebut ditiru oleh masjid-masjid lain di negeri ini. Langkah demikian tidak saja membantu masyarakat kurang mampu di sekitar masjid, tapi sekaligus membantu petani sayur atau pedagang.

Daripada infak jemaah disimpan saja di bank, akan lebih baik dimanfaatkan kembali untuk masyarakat. Bukankah para ulama sering bicara dari mimbar masjid bahwa tidak ada orang yang miskin karena bersedekah? Maka, saatnya masjid juga bersedekah kepada warganya. Dari jemaah, oleh jemaah dan untuk jemaah. 

Yakinlah, dengan cara ini Islam semakin syiar dan masyarakat yang punya kelebihan rezeki akan semakin ringan tangan menginfakkan atau mensedekahkan hartanya ke masjid. Sekali lagi, yakinlah! (Sawir Pribadi)

 
Top