Faktual dan Berintegritas


SARAPAN tentulah hal biasa-biasa saja bagi setiap orang. Sebaliknya menjadi hal sangat mengesankan apabila usai sarapan, lokasinya menjadi raib tak berbekas.

Hari itu Jumat, 10 Mei 2024, dalam suatu perjalanan ke Bukittinggi saya bersama keluarga menyempatkan diri mampir di resto Xakapa, dalam kawasan Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Siapa sangka itu adalah sarapan terakhir sebelum Xakapa hanyut dibawa air bah Sungai Batang Anai, Sabtu (11/5) malam.

Jumat itu sekitar pukul 09.00 WIB, resto itu sangat ramai oleh pengunjung. Areal parkir penuh oleh kendaraan yang datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Solok, Painan dan bahkan ada yang datang dari luar Sumbar seperti dari Riau. 

Saking ramainya, saya dan keluarga tak kunjung kebagian meja, maka terpaksa antrean terlebih dulu. Apa boleh buat, awak mau sarapan di situ juga.

Ada sekitar setengah jam menunggu, baru dapat meja dan itu pun meja berkapasitas dua orang. Karena saya bersama keluarga ada enam orang, maka terpaksa dua meja kecil-kecil itu disatukan.

Kebiasaan saya jika sarapan di resto itu adalah bubua kampiun. Hari itu tentu menjadi kampiun terakhir dari Xakapa yang saya konsumsi.

Ya, sarapan kampiun terakhir, karena resto itu ikut jadi korban ganasnya aliran Batang Anai. Bukan hanya resto Xakapa, jalan nasional yang menghubungkan Kota Padang dengan Padang Panjang pun terputus dibuatnya. Betapa kokohnya jalan itu sejak dibangun belum pernah terputus oleh air sungai, namun kali ini tak berdaya. Jalan yang menjadi pengubung utama daerah utara dengan pusat Provinsi Sumbar itu kini tak bisa dilewati sama sekali.

Air sungai yang biasanya jinak, Sabtu malam kemarin itu benar-benar ganas. Sejumlah kendaraan bermotor diseretnya ke dalam sungai. Tanpa ampun, semua disasau keganasan air Batang Anai.

Musibah yang terjadi di kawasan Lembah Anai adalah tempo hari adalah yang terbesar sepanjang sejarah jalan nasional Padang-Bukittinggi. Jika selama ini sering terjadi kemacetan paling disebabkan badan jalan yang tetutup longsor, luapan air terjun Lembah Anai atau kecelakaan lalu lintas. Belum pernah terjadi jalan putus total dihantam air sungai seperti sekarang. (Sawir Pribadi)

 
Top