Faktual dan Berintegritas


PEMERINTAH mengajak masyarakat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dengan riang gembira. Momentum kemerdekaan tahun ini diarahkan menjadi ruang kebersamaan yang melibatkan publik, sekaligus diisi kegiatan positif dengan suasana yang hangat dan tetap tertib.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan pemerintah ingin perayaan kemerdekaan lebih dekat dengan masyarakat. Partisipasi warga juga dibuka seluas-luasnya dalam berbagai rangkaian kegiatan HUT ke-81 RI.

Kita tentu setuju dengan keinginan pemerintah tersebut. Namanya saja ulang tahun tentulah harus bergembira. Untuk ulang tahun orang yang dicintai saja tidak boleh ada kesedihan, apatah lagi ulang tahun bangsa dan negara yang dicintai. 

Tapi, benarkah di ulang tahun Kemerdekaan RI ke-81 ini semua bisa gembira? Benarkah tidak ada kesedihan dalam kalbu anak bangsa? Ini adalah pertanyaan mendasar yang harus kita lihat secara jernih, bukan secara politis.

Setuju atau tidak, saat ini banyak persoalan yang dihadapi negara dan rakyatnya. Dua blok persoalan yang kadang tak bisa disatukan. Blok persoalan negara dan blok persoalan rakyat. 

Persoalan negara pasti diketahui oleh rakyatnya, sebaliknya tidak semua persoalan rakyat diketahui oleh negara, dalam hal ini adalah pemerintah. Salah satu di antaranya adalah persoalan kemiskinan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen atau setara dengan 22,93 juta orang. Angka ini berkurang sekitar 430.000 penduduk dibandingkan periode September 2025 yang berada di level 8,25 persen (23,36 juta orang).

Itu adalah angka statistik. Angka itu tentu berdasarkan kriteria atau indikator pemerintah, yang berbeda dengan fakta lapangan. Berdasarkan pendataan perlindungan sosial (Perlinsos) yang tengah berjalan saat ini, banyak penduduk berpotensi menerima bantuan sosial di tahun 2027 mendatang justru tidak masuk dalam kriteria. Berbagai hal yang membuatnya tidak bisa menerima bansos.

Dengan fakta itu, ada di antara penduduk negeri ini yang belum merasa merdeka. Sebab merdeka bagi mereka adalah hidup tidak dalam jeratan kemiskinan. Jika mereka miskin diharapkan pemerintah punya perhatian dengan tidak pilih kasih.

Begitu juga masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, atau pelayanan hukum sebagaimana diharapkan. Mereka akan berasumsi belum merdeka, karena merdeka bagi mereka antara lain dapat pelayanan kesehatan yang tanpa pilih kasih pula dan gratis. Dapat pelayanan hukum secara adil, bukan hukum yang tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

Itulah harapan masyarakat, merdeka dari penjajahan sudah, namun merdeka dari hal-hal tertentu masih belum. Itulah tugas negara. Mudah-mudahan momen 81 tahun kemerdekaan RI, membuat masyarakat merdeka dalam hak dan kewajiban. Semoga! (Sawir Pribadi)
 
Top