MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) ke-28 berakhir. Jika tidak ada perubahan atau aral melintang, malam nanti kegiatannya akan ditutup secara resmi.

Sejak dibuka Presiden Joko Widodo secara virtual pada 14 November lalu, sebanyak 1.467 peserta lomba dari 32 provinsi (minus DIY dan NTT) telah menampilkan kemampuan maksimal pada berbagai cabang yang dilombakan. Hasilnya ada yang jadi juara dan ada yang belum beruntung. Ini adalah hal lumrah. Namanya saja lomba, tentu ada yang jadi juara dan ada yang tidak.

Perlu disadari, pelaksanaan MTQ ke-28 ini jauh beda dengan kegiatan yang sama sebelum-sebelumnya.  MTQ yang dituanrumahi Provinsi Sumatera Barat ini diselenggarakan dalam kepungan virus berbahaya, yakni virus Corona yang telah memangsa ratusan ribu orang di Tanah Air. 

Dalam situasi pandemi itu, Sumatera Barat menjadi tuan rumah kegiatan nasional dan Alhamdulillah bisa sukses. Ini perlu dan sangat perlu diapresiasi oleh siapapun. Karena harus diakui, ini adalah penyelenggaraan iven nasional yang paling berat mendebarkan dan jelas penuh risiko. Sepanjang sejarah penyelenggaraan MTQ, baru kali dilaksanakan di tengah peperangan melawan virus berbahaya dan mematikan. 

Sangat bersyukur kita,  hingga di ujung kegiatan, tidak terdengar adanya peserta, official dan para tamu lainnya yang tertular virus Corona. Walau seusai pembukaan ada salah seorang juri atau anggota dewan hakim yang sakit, lalu meninggal dunia, namun itu bukan karena virus Corona. Sebab, hasil tes swab yang bersangkutan dinyatakan negatif. 

Sekali lagi kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan MTQ ke-28 ini. Sebab, dengan jerih payah semuanya, iven besar di tengah pandemi ini bisa sukses.

Kita tentu juga apresiasi dan berterima kasih kepada semua tamu yang hadir di arena MTQ, yang datang dalam kondisi dehat dan bisa menerapkan protokol kesehatan secara baik, hingga akhirnya bisa pulang dengan keadaan sehat pula. Tanpa Kepatuhan semuanya dalam mengaplikasikan protokol kesehatan, maka belum tentu MTQ ini akan sesukses sekarang.

Khusus kepada para tamu, sebelum pulang ke daerah masing-masing, jangan lupa menikmati keunggulan Sumatera Barat yang dikenal sebagai Ranah Minang ini. Ada dua hal yang wajib dinikmati, yakni panorama alam dan enaknya kuliner. Keduanya bisa dinikmati pada semua daerah kabupaten/kota dan itulah kenang-kenangan yang bisa dibawa.

Soal panorama alam di Sumbar tersedia semuanya. Mulai dari laut, danau, gunung, sungai, lembah sampai keunikan rumah budaya atau Rumah Gadang tidak ada tandingannya. Begitu juga dengan kuliner tradisional semua enak dan bahkan sudah terkenal ke seluruh dunia. Nikmatilah sebelum bertolak ke daerah masing-masing. Meminjam semboyan rumah makan Minang; 'Anda Puas, Kasih Tau Teman-teman. Tapi Jika Anda Kurang Puas Beritahu Kami'.

Selamat kembali ke daerah masing-masing, semoga selamat dan tetap sehat sampai tujuan. Sehat dari sana ketika  berangkat dan sehat pula dari sini hingga berkumpul dengan keluarga kembali.

Lebih dari itu, datanglah kembali ke Sumbar di lain waktu, karena alam, kuliner dan budaya Minang selalu setia menunggu. (Sawir Pribadi)

 
Top