PADANG - Sempat dinyatakan ditutup pada 18 Oktober lalu, rekening bantuan untuk pengungsi korban kerusuhan Wamena masih terima sumbangan. Alasannya, masih banyak masyarakat yang ingin memberikan bantuan.

"Semula memang ada rencana untuk ditutup, tapi ternyata sejumlah komunitas Ikatan Keluarga Minang (IKM) dan masyarakat masih banyak ingin menyerahkan sumbangan, akhirnya rekening itu kita tunda penutupannya," ujar Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar, Jasman Rizal bersama Kepala Biro Bina Mental dan Kesra Setdaprov Sumbar Syaifullah, tadi siang.

Dikatakannya, reaksi masyarakat itu muncul setelah dinyatakan ditutup. Namun karena sebagian masyarakat masih ingin menyumbang dan bingung menyalurkan, maka mereka menghubungi Pemprov Sumbar. "Terakhir dari Kalimantan menghubungi saya ingin menyalurkan bantuan," katanya.

Meski begitu katanya, Pemprov Sumbar tidak akan merentang terlalu jauh sumbangan tersebut. Paling  tidak hanya sampai akhir Oktober 2019. "Saya koordinasikan dengan pimpinan dulu, paling tidak hingga akhir bulan inilah," katanya.

Sejak dinyatakan ditutup 18 Oktober 2019, ada penambahan Sumbangan sekitar Rp300 juta. Sebelumnya, sumbangan sudah mencapai Rp6,308 miliar. Kemudian pada Selasa 22 Oktober sumbangan sudah mencapai  Rp6,6 miliar. Sedangkan dana yang yang sudah disalurkan Rp3,49 miliar lebih, sehingga saldo Rp3.12 miliar lebih.

Sementara warga Wamena asal Sumbar yang sudah pulang saat ini adalah 860 orang. Selain biaya untuk pemulangan, dana tersebut juga sudah dibagikan pada masyarakat pengungsi Wamena dalam bentuk santunan. Untuk dewasa Rp1 juta masing-masing anak-anak Rp500 ribu.

Rencananya, sisa bantuan yang terkumpul tersebut akan diserahkan pada korban rusuh dalam bentuk bantuan modal usaha dan perbaikan tempat usaha. Karena banyak tempat usaha pengungsi yang rusak. Selain itu juga modal usaha yang sudah habis, karena terbakar saat rusuh. (sp)
 
Top