Muhadjir Effendy. 

JAKARTA - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan  (PMK) Muhadjir Effendy mengapresiasi langkah Pemerintah Nagari Situjuah Batua, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumatera Barat yang berhasil membudayakan hidup bersih dengan cara mengelola sampah rumahan warga dan fasilitas umum  menjadi rupiah.

"Apalagi, saya dapat kabar, di desa (nagari) itu, pendapatannya (pengolahan sampah,-red) digunakan untuk kesejahteraan rakyat kecil. Untuk orang susah," kata Menko PMK, Muhadjir Effendi, kepada wartawan Kamis (7/11) di Jakarta.

Dikatakan, program yang dilakukan Walinagari Situjuah Batua Don Vesky Dt. Tan Marajo dengan melibatkan perangkat nagari, Bamus  dan seluruh komponen masyarakat, telah berhasil merubah gaya hidup lebih bersih dan sehat.

Sebelumnya, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, menjadi nagari atau desa pertama di Provinsi Sumatera Barat yang mengelola sampah pasar tradisional, sampah rumah tangga, dan sampah perkantoran,  secara profesional. Setiap hari, ada 5 petugas kebersihan yang dikerahkan pemerintah nagari setempat, untuk  mengangkut 1.000 tong sampah yang tersebar di rumah penduduk, perkantoran, dan sekolah, dengan menggunakan 2 becak motor dan 1 mobil pengangkut sampah.

"Setiap hari, ada 2 ton sampah rumah tangga, sampah pasar tradisional, dan sampah perkantoran, termasuk sampah plastik yang diurus pemerintah Nagari Situjuah Batua.  Sampah-sampah itu, setelah dipilah, sebagian dibawa ke rumah kompos yang sudah dibuat pemerintah nagari bersama BumNag, dengan binaan Unand. Kemudian, sebagian lainnya, dibuang ke TPA Regional Sumbar di Payakumbuh Selatan," kata Walinagari Dhon Vesky Datuak Tan Marajo.

Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Situjuah Batua, H Zul'Aidi menyebut, pengelolaan sampah yang sudah dilakukan pemerintah Nagari Situjuah Batua selama hampir setahun belakangan ini, merupakan yang pertama di Sumatera Barat. "Sebelum Situjuah Batua memulai, belum ada pemerintahan terendah di Sumatera Barat yang mengelola sampah secara profesional. Dengan penuh rasa syukur kami sampaikan, Situjuah Batua adalah nagari atau desa pertama di Sumbar yang mengelola sampah secara profesional," kata dia.

Menurut Tan Marajo dan Zul'Aidi, dalam pengelolaan sampah di Nagari Situjuah Batua, partisipasi masyarakat sangat tinggi. Bahkan, masyarakat setiap bulannya, membayar iuran Rp10 ribu setiap keluarga, untuk pengangkutan sampah ke rumah-rumah mereka. "Di Situjuah Batua, sampah menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Nagari yang diatur melalui Peraturan Wali Nagari Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah," kata Zul'Aidi. (by)
 
Top