Nofal Wiska 

PADANG, Swapena - Kebanyakan orang berpikir Humas hanya media relations sebatas mengirim rilis dan informasi. Sebenarnya lebih dari itu, Humas berfungsi membuat agenda setting dan menggiring opini publik untuk mengangkat citra sebuah lembaga.

"Namun, jangan menari di atas tabuhan gendang orang lain. Artinya, Humas harus mampu mengangkat citra lembaga atau organisasi dengan memproduksi informasi sendiri," ungkap Ketua Komisi Informasi Sumbar, Nofal Wiska, dalam Rakor Kehumasan Bawaslu Sumbar, di Padang, Selasa (3/11).

Nofal menekankan pentingnya Humas bertransformasi ke era digital. Jaringan komunikasi yang semakin luas sangat memungkinkan bagi Humas untuk memanfaatkan para influencer dalam membangun citra organisasi atau lembaga. "Para influencer ini umumnya memiliki banyak pengikut yang menjadi sasaran atau target informasi, serta bisa mempengaruhi opini publik," ujar Nofal.

Di samping itu, Humas juga harus memiliki wawasan tentang bahasa yang digunakan untuk memberi informasi. Bahasanya tidak kaku dan cenderung dekat ke masyarakat. "Bahasa Humas itu harus popular dan disukai netizen. Banyak berita sekarang yang melabrak bahasa jurnalistik lama. Tidak ada pakem terhadap ini, maka humas juga harus mengikuti perkembangan bahasa tersebut. Tidak hanya menulis, Humas juga harus punya kemampuan memotret, membuat video dan infografis sebagai tuntutan komunikasi zaman sekarang," ungkapnya.

Disampaikan Nofal, Humas harus memiliki kompetensi teknologi dan kaidah jurnalistik. "Personalisasi konten dan target pemirsa penting untuk dikuasai Humas. Begitu juga bahasa media sosial harus dipahami Humas," katanya.

Di samping itu, humas harus kreatif dan memahami global tren. Kemudian berintegritas dan jangan terjebak menyebar berita hoaks. Humas jangan terafialiasi dengan kelompok mana pun di luar lembaga. (bb)

 
Top