Faktual dan Berintegritas

                      CATATAN SAWIR PRIBADI


MASYARAKAT Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok baru saja mengalami musibah. Sejumlah bangunan dilalap si jago merah, termasuk dua rumah gadang.

Bicara kebakaran rumah gadang di Kabupaten Solok sudah terjadi berkali-kali. Dalam tahun 2023 ini saja telah terjadi musibah kebakaran pada tiga nagari, yakni Cupak, Kinari dan Muaro Pingai. Sedangkan pada tahun 2020 lalu juga pernah terjadi kebakaran rumah gadang di Nagari Bukit Tandang.

Bagaimanapun, kebakaran yang menimpa rumah gadang adalah duka sangat dalam bagi kaum suku pemilik dan pewarisnya di nagari bersangkutan. Artinya yang menderita kerugian bukan hanya satu orang, melainkan satu kaum.

Ada hal menarik dari beberapa kali kebakaran di Kabupaten Solok dan sekitarnya, yakni, mayoritas peristiwanya terjadi pada hari Minggu. Termasuk juga kebakaran yang terjadi pada Kawasan Saribu Rumah Gadang di Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan. Untuk diketahui, Solok Selatan adalah ‘saudara kandung’ Kabupaten Solok dan organisasi perantaunya bernama Solok Saiyo Sakato (S3), terdiri dari Kabupaten Solok, Kota Solok dan Solok Selatan yang disebut juga sebagai Solok Raya.

Berikut fakta bahwa mayoritas kebakaran tersebut terjadi pada hari Minggu. Kebakaran terbaru menimpa dua rumah gadang di Muaro Pingai terjadi pada Minggu 2 April 2023. Sebelumnya, kebakaran yang menimpa rumah gadang di Kinari, Kecamatan Bukit Sundi, juga terjadi pada hari Minggu, tepatnya Minggu, 12 Februari 2023.

Kecuali kebakaran rumah gadang di Cupak, Kecamatan Gunung Talang yang terjadi pada Selasa 3 Januari, kebakaran rumah gadang Solok Selatan pun terjadi pada Minggu 26 Maret 2023. Bahkan peristiwa kebakaran yang menimpa rumah gadang di Bukit Tandang, Kecamatan Bukit Sundi pada tahun 2020 lalu juga terjadi pada Minggu, persisnya Minggu 23 Februari 2020.

Kita yakin, kebakaran yang mayoritas terjadi pada hari Minggu tentulah takdir dari Allah. Sebagai umat beragama kita meyakini itu! Namun yang perlu menjadi pemikiran kita bersama adalah penyebab terjadinya peristiwa kebakaran yang telah berkali-kali melumat rumah gadang dimaksud.

Untuk diketahui, setidaknya ada beberapa faktor besar yang menjadi penyebab terjadinya suatu tragedi kebakaran, antara lain korsleting listrik dari dapur, atau lainnya. Korsleting listrik bisa saja terjadi pada hubungan arus pendek, misalnya pemilik rumah tidak mencabut colokan pada stop kontak ketika hendak meninggalkan rumah, setrika dibiarkan terhubung dan lain sebagainya. Bahkan bisa juga karena faktor jaringan di dalam rumah yang sudah tua dan terkelupas digigit tikus.

Faktor berikutnya bisa saja terjadi dari dapur, umpamanya selang gas bocor atau meledak, kompor minyak tanah yang tidak dipadamkan, termasuk tungku kayu yang masih menyala dan lainnya. Penyebab lain misalnya pedagang bahan bakar minyak eceran yang memindahkan minyak saat ada orang merokok di dekat itu. Bisa juga ada orang membakar sampah dekat rumah dan lainnya.

Apapun penyebab kebakaran yang menimpa rumah gadang pada berbagai nagari di Solok sekitarnya itu, membuat kita ikut prihatin. Sebab, untuk membangun rumah gadang itu butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Lebih dari itu, pasca terbakar, rumah gadang harus dibangun kembali. Sebab, rumah gadang adalah identitas suku dan kaum di Minangkabau.

Terkait rangkaian peristiwa kebakaran tersebut, saatnya pemerintah melakukan penyuluhan terhadap masyarakat akan bahaya kebakaran. Begitu juga pihak PLN perlu mengedukasi masyarakat bagaimana menggunakan listrik yang aman. Berapa lama jaringan di dalam rumah yang aman, dan kapan jaringan itu perlu diganti. Sebab, kebanyakan jaringan di dalam rumahnya masyarakat seumuran dengan rumahnya.

Kita berharap dengan penyuluhan dan edukasi dari pihak-pihak berkepentingan, kebakaran tidak lagi terjadi. Semoga! (*)


 
Top