Aksi solidaritas yang berlangsung dalam suasana haru dan penuh keprihatinan ini turut menyita perhatian ratusan wisatawan yang tengah memadati kawasan Jam Gadang. Tanpa sekat perbedaan bendera media, para pewarta menyatukan asa sebagai bentuk dukungan moral bagi rekan seprofesi mereka. Aksi ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh pers daerah, di antaranya Ketua PWI Bukittinggi Asrial Gindo, Kepala Stasiun RRI Abdul Ghafar, dan Ketua Bukittinggi Press Club (BPC) Al Fatah.
Kepala Stasiun RRI Bukittinggi, Abdul Ghafar, dalam kesempatan tersebut mengingatkan publik akan besarnya pengorbanan di balik sebuah berita bencana. Menurutnya, ada harga mahal dan risiko nyawa yang sering kali tidak terlihat oleh audiens.
"Wartawan menyadari bahwa di balik setiap informasi yang sampai kepada masyarakat, terdapat perjuangan dan tanggung jawab besar para jurnalis yang bekerja langsung di lapangan, termasuk ketika harus berada di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi," ungkap Ghafar. Ia menegaskan, keselamatan wartawan harus menjadi perhatian bersama mengingat jurnalis adalah garda terdepan dan bagian krusial dalam rantai informasi kebencanaan.
Keprihatinan mendalam juga disuarakan oleh Ketua PWI Bukittinggi, Asrial Gindo. Ia sangat berharap agar proses evakuasi dan pencarian terhadap kelima jurnalis tersebut dapat dilakukan secara maksimal oleh tim SAR gabungan. Menurut Asrial, profesi ini kerap menuntut para pewarta untuk menerobos kondisi tak menentu demi menyajikan fakta yang akurat dan krusial bagi masyarakat, terutama terkait mitigasi bencana.
"Solidaritas ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama wartawan. Kita di sini sama-sama berdoa, memohon mukjizat agar kelima rekan kita segera ditemukan dan diberikan keselamatan," ujar Asrial.
Sementara itu, Ketua BPC, Al Fatah, menyebut aksi doa bersama ini murni lahir dari panggilan nurani persaudaraan. Peristiwa hilangnya lima jurnalis di Selat Sunda ini menjadi pengingat keras bahwa dalam tugas peliputan, terutama di zona bencana ekstrem, kesiapsiagaan dan kehati-hatian adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
"Ketika seorang wartawan turun ke lapangan, ada tanggung jawab besar yang dibawanya. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, tetapi keselamatan tetap menjadi hal yang utama. Hari ini kita berkumpul dan berdoa sebagai bentuk solidaritas sesama insan pers," tegas Al Fatah.
Aksi spontan di bawah bayang-bayang Jam Gadang sore itu menjadi bukti nyata kuatnya semangat kebersamaan pewarta. Perbedaan tempat bertugas dan haluan media luruh berganti menjadi untaian doa yang serentak dilangitkan. Dari jantung Sumatera Barat, mereka menitipkan harapan agar kelima pahlawan informasi tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali ke pelukan keluarga tercinta. (ag)