TAK dapat disangkal lagi, jumlah masyarakat Sumatera Barat yang terkonfirmasi positif terpapar virus corona Covid-19 terus bertambah. Walau kemarin tidak ada pertambahan angka positif, namun  jumlah keseluruhan masyarakat Sumbar yang positif corona hampir mencapai angka 300, yakni 299 orang. 

Sejumlah daerah yang awalnya di zona hijau seperti Solok Selatan, Agam dan Limapuluh Kota sekarang sudah berubah merah. Di daerah-daerah itu sudah ada masyarakat positif tertular Covid-19. Sebaliknya ada daerah yang sudah nol, setelah semua pasiennya sembuh seperti Pasaman dan Pasaman Barat.

Di satu sisi kita prihatin dan bahkan ngeri dengan derasnya pertambahan angka yang positif, tapi di sisi lain kita menaruh harapan pandemi corona Covid-19 akan segera berakhir. Memang ini adalah harapan semua masyarakat. Sebab, pandemi ini tidak saja menakutkan, tetapi juga menyiksa sekaligus merusak semua sisi kehidupan.

Sudah berminggu-minggu masyarakat beraktivitas dibatasi oleh pintu rumah. Tidak bisa ke mana-mana, termasuk tidak bisa untuk shalat berjamaah ke masjid atau mushalla. Tidak bisa ke mal, ke pasar arau sekadar mengunjungi keluarga dan sanak saudara di lain tempat. Semua serba dibatasi oleh aturan dan protokol kesehatan. Inilah yang membuat jenuh dan bosan.

Sayangnya rasa bosan, jenuh dan bahkan rasa muak di hati tidak diimplementasikan oleh kita secara konsekuen. Banyak di antara kita yang bertindak seolah-olah tidak ingin kembali ke kehidupan normal sebagaimana sebelum pandemi ini ada.

Setidaknya ini terbukti dengan sikap sebagian kita yang tidak mematuhi arahan pemerintah. Padahal, pemerintah sudah memperpanjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 6 Mei 2020 lalu hingga 29 Mei 2020 yang akan datang. Selama rentangan waktu itu, kita masih belum akan bebas melakukan segala aktivitas, hingga setelah Lebaran. Artinya kita semua berlebaran di rumah saja, tidak bisa ke kampung, walau itu antar kabupaten/kota.

Hari ini sudah hampir seminggu kita berada pada peneraoan PSBB jilid 2. Apakah kita sudah mendukung dan sudah mematuhi arahan pemerintah?  Sebagian memang sudah, tapi sebagian lagi masih abai dan bersikap masa bodoh.

Lihatlah jalanan masih tetap ramai. Banyak yang hilir mudik tanpa mengenakan masker.  Apalagi sejak masuk Ramadhan lalu, setiap sore hari masyarakat bagai 'tumpah' ke luar rumah. Alasannya mencari  bahan makanan atau mencari pabukoan dan lain sebagainya. Aturan PSBB memang membolehkan masyarakat keluar rumah apabila sangat penting, seperti membeli kebutuhan dapur (kebutuhan pokok) dan tentu termasuk berbelanja pabukoan.

Lalu, apakah yang keluar rumah itu sudah sesuai protokol kesehatan? Sebagian belum! Seperti dikatakan di atas, salah satu indikatornya adalah masih banyak yang tidak melakukan jaga jarak, tidak memakai masker dan bahkan di antara pedagang dan pembeli ada yang santai saja melakukan transaksi jual beli tanpa masker.

Begitu juga dengan larangan berkumpul, apakah sudah dipatuhi masyarakat secara keseluruhan? Lihatlah sebagian besar pasar-pasar masih berjalan normal tanpa pengaturan tempat berdagang yang menganut prinsip social distancing. Lihatlah penumpang angkutan umum, lihatlah rumah ibadah yang sejak berakhirnya masa PSBB tahap pertama semakin percaya diri melaksanakan shalat tarwih berjamaah. Apakah ada jaminan di antara jemaah itu bebas dari virus corona? Jawabnya tak ada seorang pun yang bisa menjaminnya. Karena virus adalah makhluk mikro yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Yang paling penting lagi, korban virus corona tidak akan pernah berhenti pada satu orang saja. Selagi korban pertama berinteraksi dengan orang lain, maka virus tersebut akan berpindah. Apakah kita tega menulari keluarga, tetangga, sanak saudara, kawan, sahabat dan orang lain hanya karena keegoisan kita? Apakah kita tega, gara-gara egois kita orang lain meninggal dunia? Ayo, mari kita inap renungkan. 

Untuk itu, mari kita lawan untuk mengakhiri pandemi ini. Bila  memang kita semua telah bersepakat untuk segera mengakhiri wabah dan 'penyiksaan' ini maka kuncinya adalah mematuhi arahan pemerintah dan protokol Covid-19. Mari tahan diri untuk di rumah saja, tidak pulang kampung dulu, rajin cuci tangan, jauhi kerumunan dan kalau memang harus atau terpaksa keluar rumah juga, pakailah masker. Jangan lupa perbanyak ibadah dan doa. Apalagi sekarang bulan puasa, maka doa orang yang tengah berpuasa diijabah oleh Allah. 

Ingat, Allah yang menciptakan virus-virus ini, maka atas izin Allah pula ia bisa lenyap dari muka bumi ini. Insyaallah! (Sawir Pribadi)
 
Top