KORBAN virus Corona atau Covid-19 di Sumatera Barat terus berjatuhan dalam jumlah yang sangat banyak. Angka tertinggi pertambahan kasus harian terjadi dua hari lalu, yakni mencapai 87 orang terkonfirmasi positif.

Miris, khawatir dan takut menghantui sebagian besar penghuni provinsi ini. Karena virus itu memangsa siapa saja, tanpa mengenal status sosial, pangkat dan jabatan. Mulai dari masyarakat biasa, perawat, guru, polisi hingga pejabat tinggi dan kepala daerah pun tertular oleh virus tersebut.

Di lain pihak ada di antara masyarakat yang tak peduli dengan keganasan virus tersebu. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku tak percaya akan adanya virus Corona dimaksud. Masyarakat begini cenderung cuek dan tak punya beban dalam berbagai aktivitas.

Apa saja yang dilakukan masyarakat seperti ini, tidak ada protokol kesehatan. Tidak ada jaga jarak dan juga tidak akan ada, cuci tangan, memakai masker dan seterusnya. Namanya saja orang tak percaya dengan virus mematikan itu.

Perlu diketahui, ketika virus Covid-19 masuk di Sumatera Barat, seluruh penghuni negeri ini dibuat kalang kabut. Semua aktivitas dialihkan ke rumah. Segala pekerjaan yang mestinya di kantor justru dikerjakan dari rumah. Agar keren diberi istilah dengan work from home (WFH). 

Semua mal, sekolah hingga masjid dan tempat ibadah lainnya ditutup. Pemerintah begitu takut tempat-tempat itu sebagai titik penyebaran virus Covid-19.

Tak cukup dengan itu saja, pintu-pintu masuk ke Sumatera Barat dijaga ketat. Pesawat terbang dan bus-bus umum antar provinsi tak beroperasi lantaran semua takut tertular virus Corona. Petugas ditempatkan pada pos-pos perbatasan, baik perbatasan provinsi maupun perbatasan kabupaten/kota. Yang melintas diperiksa kesehatannya. Masyarakat benar-benar takut beraktivitas keluar rumah.

Lalu sekarang? Ketika jumlah kasus meroket dan pertambahan korban positif harian dalam dua digit, pemerintah terkesan diam saja. Tak ada pembatasan, apalagi penutupan dan juga tak ada pembatasan sosial berskala besar seperti dulu. Semua biasa-biasa saja yang dibungkus dengan adaptasi kebiasaan baru atau ada pula yang menyebut dengan new normal.

Lihatlah, di mana-mana aktivitas masyarakat berjalan seperti normal saja Tak terkesan negeri ini sedang dilanda wabah.

Pertanyaannya, apakah akan dibiarkan saja kehidupan seperti ini? Demi menghidupkan ekonomi biarlah masyarakat jadi korban. Begitu? Sementara vaksin dan obat Covid-19 itu baru akan ada sekitar tahun 2021

Harusnya dalam kondisi seperti ini sudah harus ada langkah-langkah bijak dari pemerintah. Jika memang penyebab membludaknya kasus Covid-19 di Sumbar lantaran perjalanan dan orang-orang yang masuk ke daerah ini, kenapa tidak diantisipasi? Setidaknya, kenapa pejabat tidak menghentikan dulu perjalanan ke luar provinsi? 

Kemudian, jika memang penyebab lain lantaran masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan, kenapa tidak dilakukan pengawasan ketat dengan sanksi yang bisa membuat jera?

Satu hal lagi, rencana pilkada yang akan digelar serentak pada 9 Desember mendatang sebaiknya oleh KPU diundur saja. Sebab, helat ini diperkirakan bisa menjadi klaster baru dalam kasus Covid-19. Toh, mengundur pilkada tidak akan meruntuhkan republik ini. (Sawir Pribadi )



 
Top