INIKAH gelombang kedua dari pandemi Covid-19 itu?' Pertanyaan demikian lahir karena melihat realita yang ada saat ini. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah pasien positif Covid-19 kembali mengalami pertambahan luar biasa. Data terakhir, jumlah warga Sumbar yang terinfeksi virus corona Covid-19 telah mencapai angka 1.079 orang. 

Diawali sejak Hari Raya Idul Adha 1441 H, pada 31 Juli 2020,  yang saat itu jumlah pertambahan pasien positif Covid-19 mencapai angka 40 orang. Bahkan kemarin pagi terdeteksi 47 orang, lalu dikoreksi sore hingga menjadi 41 orang. Sejak kasus ini muncul di Sumatera Barat, itulah pencapaian hasil pemeriksaan sampel swab dengan hasil terkonfirmasi positif tertinggi.

Semenjak Lebaran Haji itu, pertambahan kasus positif selalu saja dalam dua digit. Bahkan dua hari terakhir bertambah kasus positif Covid-19 lebih 70 orang.

Yang memiriskan, sejumlah kantor menjadi klaster penyebaran virus tersebut, termasuk bank yang selalu ramai dikunjungi masyarakat setiap saat. Ini beda dengan sebelumnya, pasar yang disebut sebagai klaster penyebaran virus dimaksud.

Kita memang khawatir, jangan- jangan ini adalah gelombang ke dua penyebaran virus corona di Tanah Air, khususnya di Sumatera Barat. Sebab, sebelum akhir Juli lalu pergerakan dan pertambahan pasien positif Covid-19 rata-rata satu digit setiap hari. Bahkan pernah nol. Tapi sejak 31 Juli 2020 itu angkanya meroket.

Di disi lain pihak Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Barat seperti berusaha juga menghibur diri dengan mengatakan positifity rate (PR) Sumbar sebagai yang terendah dan terbaik secara nasional. Jujur saja, masyarakat tidak akan melihat perbandingan itu. Yang mereka lihat dan baca adalah angka pertambahan dan akumulasi korban yang berjatuhan setiap hari.

Pertanyaannya, kenapa jumlah korban virus corona kembali naik begitu tinggi? Jawabnya sangat gampang. Karena semua sudah dianggap normal. Masyarakat sudah normal beraktifitas dan bepergian. Mau ke mana saja, tak ada halangan. Karenanya lihatlah bandara kembali sibuk, mal, pusat-pusat perbelanjaan hingga pasar tradisional kembali seperti biasa. Pesta sudah bebas digelar tanpa protokol kesehatan, para tamu dan penganten bersalaman bahkan ada yang berangkulan dan seterusnya. 

Kecuali anak sekolah yang masih belajar jarak jauh. Sungguhpun demikian, selepas belajar mereka pun bisa ke mana-mana.

Masyarakat tak hirau lagi dengan protokol kesehatan. Tak banyak yang mengenakan masker,  juga sudah biasa bersalam-salaman kembali. Tak ada kebiasaan cuci tangan di tempat-tempat umum dan lain sebagainya. Banyak galon di depan kedai atau mini market yang dibiarkan kering dan lain sebagainya. Kalaupun afa air, sabun tidak ada dan seterusnya.

Selain itu, ada kelompok-kelompok tertentu yang menghembuskan kabar bohong dengan mengatakan pandemi Covid-19 hanyalah konspirasi dan akal-akalan. Sebagian di antara kita termakan akan isu demikian, sehingga bersikap masa bodoh saja lagi dengan yang namanya protokol kesehatan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Pemerintah harus mengevaluasi penerapan adaptasi kebiasaan baru yang tengah berlangsung. Kemudian membuat aturan atau regulasi sekaligus sanksi tegas terhadap yang melanggar. 

Sanksi dimaksud agaknya tak cukup dengan hukuman psikologi seperti menyuruh menyapu jalan, taman fan sebagainya, tapi harus terapkan denda besar. Sekadar contoh di negara tetangga, Malaysia, masyarakat yang kedapatan tidak memakai masker di luar rumah atau di tempat umum didenda RM 1.000 atau sekitar Rp3,5 juta. 

Dengan cara demikian, masyarakat akan berpikir seribu kali lipat untuk melanggar aturan protokol kesehatan. Ingat masyarakat kita akan patuh jika ada petugas dan sanksi hukum yang berat.

Semoga saja tidak hanya pemerintah yang melakukan evaluasi, tetapi semua kita. Semoga pandemi Covid-19 ini bisa kita eleminir sampai vaksin dan obatnya beredar luas. Semoga! (Sawir Pribadi)

 
Top