ANGKA korban keganasan virus corona atau Covid-19 di Sumatera Barat terus bertambah dan telah jauh  melewati angka 100. Bahkan hingga kemarin pasien yang dinyatakan positif sudah 144 orang.

Prihatin, sedih, khawatir dan lain sebagainya beraduk-aduk pada kita. Betapa tidak, di satu sisi pemerintah telah melakukan berbagai upaya demi memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 tersebut. Upaya teranyar adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan menutup semua akses transportasi umum, darat, laut dan udara, agar tidak ada lagi sirkulasi manusia dari satu daerah ke daerah lain yang diyakini sebagai salah satu potensi penyebaran virus dimaksud.

Sementara itu, di sisi lain begitu banyak masyarakat yang tidak peduli dan tidak mengikuti saran serta arahan pemerintah. Misalnya, masyarakat diarahkan untuk berdiam di rumah saja, namun kenyataannya jalan masih ramai. Malah, ada anak-anak muda yang sengaja menggelar 'iven' balap liar di jalanan yang sepi.

Seterusnya, masyarakat dianjurkan mengenakan masker jika memang harus keluar rumah juga untuk suatu hal yang sangat penting, tapi kenyataannya banyak yang tidak memakainya. Jika pun ada yang memakai masker, kadang asal-asalan saja, termasuk yang tidak memasang masker pada tempatnya, seperti di dagu atsu digantung di leher.

Kemudian, masyarakat dilarang bepergian dari satu daerah ke daerah lain, masih saja terjadi. Jalan utama ditutup oleh petugas, masyarakat berupaya mencari jalan 'tikus' dan sebagainya. Dilarang pulang kampung, masih juga dicari cara untuk bisa sampai tujuan.

Pokoknya, arahan yang dikeluarkan pemerintah untuk mempercepat menghentikan serangan virus mematikan ini banyak yang tidak diikuti, termasuk dalam hal shalat tarwih di masjid atau mushalla. Jauh-jauh hari umara' dan ulama telah punya kesepkatan, lalu memutuskan untuk menghentikan sementara shalat bejamaah di masjid atau di mushalla, termasuk shalat Jumat yang disuruh ganti dengan shalat Zuhur, namun hinga hari ini masih banyak yang tidak mematuhinya. Kalau sudah begitu, siapa lagi yang diikuti? Jika ajaran Islam menyuruh ikuti Allah, Rasul dan ulil amri, kenapa tidak dipatuhi? Bukankah ulama sebagai unsur yang wajib diikuti setelah nabi dan rasul?

Kita terlalu banyak beralasan serta mencari-cari alasan. Bahkan, kita terkadang terkesan membangkang dan keras kepala terhadap peraturan yang dibuat pemerintah, termasuk ulama. Padahal, semuanya adalah untuk kemaslahatan besama, untuk keamanan dan kenyamanan bersama.

Jika efek dari sikap keras kepala itu terhenti pada satu orang saja, mungkin masih bisa ditolerir. Ini tidak, serangan virus Covid-19 benar-benar seperti rantai. Ia tak bisa berhenti pada satu orang saja, melainkan terus menulari siapa saja yang pernah kontak dengan penderita. Kemudian orang yang tertular, menularkan pula kepada yang pernah kontak dengannya. Begitu seterusnya, makanya korban sudah jutaan orang di dunia.

Oleh karena itu, mari sadari efek dari sikap keras kepala itu. Mari kita ikuti aturan pemerintah. Apalagi sejak beberapa hari lalu telah diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Sumatera Barat, maka patuhilah! Jangan keras kepala juga, jangan bandel juga, jika tidak ingin penduduk negeri ini mati semua dimangsa virus corona.

Terakhir, jika kita sudah mengikuti arahan pemerintah semua, mari kita berdoa, semoga virus corona itu musnah di bumi ini. Dengan demikian, kita bisa menjalani kehidupan normal kembali seerti sedia kala. Ingat, doa orang-orang yang tengah berpuasa akan cepat diijabah oleh Allah Subhanahuwataala. Semoga! (Sawir Pribadi)
 
Top