Perantau Kabupaten Solok turun dari bus di Balai Diklat Padang. 

PADANG - Sekitar seratus lebih perantau asal Kabupaten Solok sampai di Padang Jumat (17/4). Tahap awal mereka datang sebanyak 60 orang menggunakan dua bus umum. Perantau itu pulang karena sejumlah alasan, mulai dari takut wabah Covid-19 hingga karena faktor ekonomi.

"Sekarang baru dua bus yang masuk ke Padang. Dua bus lagi dalam perjalanan," sebut Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, pada wartawan di Padang Jumat sore (17/4).

Disebutkannya, kebanyakan perantau berdomisili di daerah pandemi. Seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Depok. Makanya mereka harus dikarantina sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing.

"Jadi prosedurnya seluruh perantau akan dikantina. Kondisi kesehatan mereka akan dipantau. Jika kondisinya memang tidak tertular virus, maka diperbolehkan pulang. Sebaliknya, jika ada gejala mereka akan diisolasi selama 14 hari," terang Yulfadri.

Para perantau tersebut nantinya akan menjalani rapid tes dan tes swab jika memungkinkan. Setelah selesai karantina sesuai waktu yang ditentukan, maka perantau akan difasilitasi kembali ke kampung halamannya.

Di kampung mereka juga harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Gugus tugas Covid-19 di nagari pun akan mengawasi mereka. Ini tujuannya untuk memutus mata rantai penularan virus.

"Proses karantina ini harus dipatuhi, karena ini prosedur yang sudah disepakati. Kami dari Pemkab Solok juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah provinsi, karena sudah memfasilitasi kami dalam memberikan pelayanan pada para perantau. Sebab fasilitas yang ada di daerah kami tidak memadai. Makanya kami memilih tempat karantina di Badan Diklat ini," terangnya.

Saat ini katanya, sudah 6.000 perantau asal Solok yang pulang kampung sebagai dampak dari wabah Covid-19.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sumatera Barat Dr. H. Jefrinal Arifin, mengatakan di Balai Diklat Padang Besi terdapat dua gedung yang digunakan untuk karantina perantau  yang pulang. Gedung itu Gedung Merah Putih dengan kapasitas sekitar 40 kamar dan gedung Saiyo 20 kamar.

"Semua kebutuhan perantau selama karantina sudah disediakan pemerintah provinsi. Petugas kesehatan juga sudah stanby menjaga dan mengawasi. Mereka terdiri dari dokter, perawat dan tenaga medis lainnya. Petugas ini yang direkrut pemerintah provinsi beberapa waktu lalu," sebut Jefrinal

Kabid Yankes Dinas Kesehatan Sumbar, Busril mengatakan, para perantau itu nantinya akan dipilah-pilah, untuk mengetahui rekam jejak mereka selama di rantau. Apakah pernah kontak langsung dengan pasien positif Coavid-19 atau tidak.

"Jadi yang diinapkan itu OPD, PDP. Ini adalah tahap-tahapan selama karantina. Pemprov Sumbar dengan Pemkab Solok berkoordinasi, melakukan pendataan," sebut Busril.

Bagi perantau yang sudah diperiksa dan dipastikan aman dari virus Covid-19 akan diperbolehkan pulang dan diharapkan isolasi mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari. Namun bagi mereka yang memiliki gejala harus menjalani karantina di Balai Diklat Padang Besi hingga kondisi mereka pulih. (yk)
 
Top