Sawir Pribadi  

SEBANYAK  3.600 guru honorer di Kabupaten Pesisir Selatan diberi bantuan beras oleh bupati setempat, Hendrajoni. Berita ini bagi sebagian orang mungkin biasa-biasa saja, namun bagi saya ini hal menarik dan sangat pantas diapresiasi.

Guru honorer selama ini boleh dikatakan termasuk unsur masyarakat yang terabaikan. Berkali-kali pemerintah menerima calon pegawai negeri sipil (CPNS), namun para honorer tetap saja honorer. Ketika guru lain yang berstatus PNS tersenyum ceria di awal bulan, guru honorer tetap  bermuram durja. Padahal tugas mereka dengan guru PNS tak ada beda. Bahkan di sekolah-sekolah tertentu, justru guru honorer mendapat 'tugas tambahan' tanpa dibayar.

Ketika seorang guru PNS berhalangan hadir di depan kelas, entah karena sakit, tugas tertentu dan lain sebagainya, sering guru honorer sebagai 'pemain cadangan'. Ada yang memang ditugaskan kepala sekolah, namun tak jarang ada yang langsung hand to hand saja. "Tolong ya, saya ada keperluan ke kantor dinas..." Begitu salah satu cara mengoper tugas kepada guru honorer. Di samping itu sang honorer juga punya tugas pokok dan harus diselesaikan.

Ini salah satu bentuk tugas dan  tanggung jawab guru honorer di sekolah. Ketika guru PNS yang meminta tolong terima gaji bulanan  apakah ada basa basi kepada sang honorer? Jawab mungkin sebagian ada dan sebagian tidak. May be!

Lalu berapa penghasilan seorang guru honorer? Beragam, tergantung kemampuan keuangan masing-masing sekolah. Yang pasti kebanyakan tak cukup untuk ongkos angkutan umum dari rumah ke sekolah.

Apalagi di masa pandemi corona ini, guru honorer tak ada kegiatan mengajar, yang bisa jadi tak ada tambahan pemasukan bagi mereka. Agaknya inilah yang memotivasi Bupati Hendrajoni, sehingga menyediakan beras sebanyak 36 ton untuk para guru honorer tersebut. Maka pantas kita beri apresiasi. 

Satu hal lagi, beberapa waktu lalu, Bupati Hendrajoni juga membagi-bagikan sembako kepada garin masjid. Ini hal yang luar biasa tentunya.

"Ya, wajarlah. Kan Pak Hendrajoni mau maju lagi sebagai calon bupati Pessel, tentu akan lakukan apa saja dalam rangka menarik simpati masyarakat," kalimat demikian juga terdengar sayup-sayup.

Saya pikir kalimat-kalimat senada itu pun biasa bagi seorang pejabat politis. Yang pasti, apa yang dilakukan Bupati Hendrajoni adalah menyelamatkan warganya, dan memang warga Pesisir Selatan hingga hari ini selamat dari ancaman virus corona. Semua itu tentu tak lepas dari kepemimpinan Hendrajoni sebagai nakhoda di kabupaten terpanjang itu. (*)
 
Top