Sawir Pribadi 

SEBAGIAN besar daerah kabupaten/kota di Sumatera Barat akan memberlakukan tatanan kehidupan baru atau biasa dikenal dengan new normal. Ini tentu disambut sukacita oleh  masyarakat, terutama oleh masyarakat yang memang sudah berbulan-bulan hidup dalam 'kungkungan' rumah, kasur, dapur, sumur.

Kerinduan akan hidup normal yang dipendam berbulan-bulan itu akan dilepas setelah 7 Juni besok. Masyarakat yang tidak lagi makan di restoran dalam beberapa bulan belakangan, akan kembali menikmatinya. Masyarakat yang berbulan-bulan tidak lagi ke mal, akan bisa kembali berbelanja sambil cuci mata. Begitu juga  yang sudah lama tidak ke masjid untuk berjamaah, ke kantor atau tidak berdiri di depan kelas, akan bisa kembali menjalani rutinitas demikian. 

Ada yang perlu dipahami, namanya saja tatanan kehidupan baru, jelas tidak akan sama dengan kehidupan sebelum adanya wabah atau pandemi corona Covid-19. Setidaknya dalam tatanan kehidupan baru ada beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi, seperti tidak berkerumun, menjaga jarak aman, memakai masker, cuci tangan dan lain sebagainya yang memang tidak ada ketika sebelum pandemi corona.

Dalam masa new normal, semua sektor ekonomi akan kembali bergerak. Rumah ibadah yang selama ini ditutup kembali dibuka. Transportasi umum juga kembali beroperasi. Semuanya tetap dengan menggunakan protokol kesehatan. Gunanya, agar virus corona tidak gentayangan lagi. Sebab, hingga sekarang belum ada vaksin untuk virus tersebut.

Lalu bagaimana dengan sekolah dan perguruan tinggi? Di sini ada pro kontra, terutama menyangkut  sekolah tingkat pendidikan dasar mulai dari PAUD, SD/MI dan SMP/MTs.

Sebagian besar orang tua murid pendidikan dasar tersebut merasa khawatir akan keselamatan putra putrinya jika kembali ke sekolah. Mereka meyakini para guru punya keterbatasan untuk mengawasi anak yang  ratusan jumlahnya. Jangankan ratusan, mengawasi anak tiga, empat atau lima orang saja sulit.

Pemerintah katanya punya teknik dengan membagi kapasitas sekolah atau kelas. Semisal isi kelas 30 orang, dijadikan 15-15 dengan dua shift. Ide ini mungkin bisa pada tatanan teori, apakah di sekolah nanti bisa diterapkan? Jika di suatu SD misalnya punya murid 300 orang, artinya dibagi 150-150. Apakah bisa oleh guru mengawasi mereka?

Di dalam kelas ketika tatap muka mungkin bisa. Bagaimana ketika jam istirahat, jam pergi dan pulang sekolah? Atau bagaimana ketika pergantian guru? Apakah mereka juga diawasi? Apakah mereka tidak akan berkerumun saat jajan? Apakah mereka tidak akan bercanda sesama mereka? Yang naik angkutan umum bagaimana pula?

Bagi siswa SMA/SMK atau sederajat apalagi mahasiswa barangkali bisa diatur dan bisa dipercaya bahwa mereka akan tetap menjalankan protokol kesehatan, tapi bagi pelajar pendidikan dasar, mungkin tidak. Betapapun kepada mereka diberikan pemahaman soal protokol kesehatan itu, namun ketika sudah bersama teman-teman mereka hal itu tak akan mereka terapkan. 

Oleh karena itu, untuk mengembalikan pelajar ke sekolah saat new normal ini sebaiknya dipikirkan dan dianalisa lagi secara matang. Jangan sampai anak-anak generasi bangsa ini jadi korban dan terpapar virus Covid-19. (*)
 
Top