Ilustrasi, tenaga medis Covid-19. (detikcom)

KENDARI - Tak bisa dipungkiri, tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam upaya melawan penularan virus Corona (Covid-19). Mereka bekerja keras seharian menangani pasien di rumah sakit (RS) agar para pasien bisa sembuh.

Sebaliknya, mereka adalah manusia biasa. Mereka punya keluarga, punya cinta dan kasih sayang. Di saat menunaikan tugas mulia itu, ada anak dan keluarga yang penuh harap menunggu. Bahkan, tidak sedikit yang punya balita, yang ingin dipeluk, dicium dan dimanja.

Bisa dibayangkan, betapa berperangnya batin seorang ibu yang punya balita. Anak-anak lucu yang digarap sebagai pelipur lara dan pelepas lelah sepulang kerja. Demi tugas dan demi kesehatan si buah hati, mereka rela tak berpelukan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara, dr. La Ode Rabiul Awal, menuturkan sejumlah kisah pilu yang didengarnya langsung dari tenaga kesehatan. Dia mengatakan perjuangan tim dokter dan tenaga kesehatan tak dapat dibayar dengan apa pun. Hal yang paling memilukan adalah ketika garda terdepan ini juga harus rela untuk tidak mencium dan memeluk anaknya.

"Beberapa teman dokter dan nakes (tenaga kesehatan) harus buka pakaian di luar rumah, mandi di luar rumah. Dalam rumah menjalankan physical distancing dengan keluarga dan anak-anak. Tidur kamar sendiri, terpisah dengan anak-anaknya," beber La Ode kepada detikcom, Selasa (7/4).

Bagaimanapun rasa kasih dan sayang seorang ibu yang ingin memeluk si buah hati pasti ada. "Khawatir peluk dan cium anak, sehingga untuk peluk-cium hanya via video call, padahal dalam rumah yang sama," lanjut dia.

Itu merupakan pengalaman langsung dari sejumlah tim dokter dan tenaga kesehatan di Sultra. "Ini cerita teman-teman ya, saya sendiri secara keilmuan bukan bidang yang merawat langsung Covid-19. Cerita itu saya dapat dari teman sejawat yang merawat pasien Covid dan suspect Covid," tuturnya lagi.

Tidak hanya itu, bahkan untuk melakukan hubungan suami-istri pun, para tenaga medis memilih menahan diri terlebih dahulu. Sikap itu diambil meski tiap bekerja menangani pasien selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) yang berlapis-lapis.

"Walau sudah pakai APD, kekhawatiran tetap ada. Bahkan termasuk hubungan suami-istri pun terpaksa dihindari dulu. Ada yang begitu," ujarnya. (*/dtc)
 
Top