Oleh Sawir Pribadi. 

PEMERINTAH telah mengharuskan semua orang mengenakan masker setiap keluar rumah. Ini tentulah demi memutus rantai penularan virus Covid-19 di bumi persada ini.

Langkah pemerintah itu patut diapresiasi semua pihak. Sebab, memutus rantai penyebaran virus corona atau Covid-19 itu bukanlah tanggung jawab satu atau dua pihak saja, melainkan semua pihak. Mulai pemerintah hingga masyarakat paling bawah harus punya peranan dalam hal ini.

Semua percaya bahwa virus corona hari ini telah menjadi persoalan global yang mengharuskan penanganan super ekstra. Seluruh kekuatan dan potensi harus dikerahkan. Jika tidak, maka persoalan ini akan menjadi panjang dan tidak akan pernah putus.

Di antara langkah yang telah diambil guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19 itu adalah mengharuskan masyarakat di rumah saja. Itu sudah dilakukan. Berbagai kegiatan dialihkan juga ke rumah. Anak sekolah atau pelajar hingga mahasiswa diubah sistem belajarnya dari tatap muka ke sistem dalam jaringan (daring).

Begitu juga pegawai negeri sipil (PNS) serta pegawai swasta bekerja dari rumah. Rapat-rapat pemerintah diganti dengan teleconference atau sejenisnya. Tak ada lagi pertemuan-pertemuan yang diawali dengan saling jabat tangan.

Kegiatan-kegiatan yang sifatnya menghimpun orang banyak ditunda atau ditiadakan. Bahkan, tabligh akbar, shalat berjemaah hingga shalat jumat yang merupakan kewajiban bagi umat Islam, khusus di daerah terwabah dihentikan.

Kini, pintu-pintu masuk atau perbatasan daerah dijaga oleh tim terpadu. Setiap yang lewat diperiksa kesehatannya, terutama suhu tubuh dan ditanya riwayat perjalanannya.

Belum cukup, yang teranyar seperti disebutkan di awal adalah mengharuskan semua orang memakai masker setiap ada keperluan keluar rumah. Jika dulu ahli kesehatan menyatakan bahwa masker hanya diperlukan bagi yang sakit. Sedangkan yang sehat tidak perlu memakai masker. Sekarang bukan begitu lagi. Sakit dan sehat sama-sama disuruh memakai masker.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) nemang menyuruh semua orang memakai masker dan itu ditanggapi positif oleh pemerintah Indonesia, sehingga sekarang siapapun yang keluar rumah harus memakai masker. Lalu, mana masker yang akan dipakai itu? Apakah semua orang punya masker?

Ingat, masyarakat akan patuh demi kesehatannya, keluarga dan lingkungannya. Mereka pasti akan memakai masker, selagi ada yang akan dipakai.

Persoalannya, masker sudah sebulan ini menjadi barang yang sangat langka. Nyaris pada setiap apotek dan toko obat tak ada stock masker. Jika pun ada di tempat tertentu, harganya melangit. Lalu, apa yang akan dipakai? Jika tetap dipaksakan, bisa-bisa masyarakat  memanfaatkan kaos kaki sebagai masker. Sebab, kaos kaki lebih murah dan lebih gampang mendapatkannya ketimbang masker.

Lihatlah sejumlah meme  di media sosial. Ada yang mengganti masker dengan selendang dan ini masih lumayan. Ironinya ada yang mengganti masker dengan sabut kelapa. Bahkan (maaf), celana dalam pun mereka modifikasi sebagai masker.

Kita tentu tidak ingin meme seperti itu jadi kenyataan. Jika pemerintah memang mengharuskan masyarakat menggunakan masker, maka harus disediakan. Setidaknya, setiap apotek dan toko obat harus tersedia dengan harga normal kembali seperti sebelum meletusnya kasus virus Covid-19 ini.

Selain itu, tangkapilah seluruh oknum atau orang-orang yang menimbun dan menjual masker selangit itu. Beri mereka hukuman. Jangan cuma hukuman kurungan, tapi lebihkan pada hukuman denda, sehingga denda itu bisa dipakai sebagai modal pembeli masker untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Mudah-mudahan dengan cara begini semua masyarakat bisa memakai masker dan ujung-ujungnya tentu bisa memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang menakutkan ini. Semoga! (*)
 
Top